Pagi itu Nasarudin mengajak anaknya ke pasar. Karena jauh, maka sang anak diminta naik diatas punggung keledai sedangkan Nasarudin sendiri berjalan disamping keledainya. Kira kira berjalan 10 menit Nasarudin bertemu dengan temannya sekampung. Setengah mengolok si teman ini berkata, ANAK GAK TAHU DIRI, MASAK ORANG TUANYA DISURUH BERJALAN MENUNTUN KELEDAI, SEDANGKAN DIA SENDIRI ENAK-ENAKAN DUDUK MANIS DIATAS PUNGGUNG KELEDAI. MEMANGNYA KAMU GAK BISA MENDIDIK ANAK APA DIN .....
Merasa disindir demikian, maka Nasarudin meminta anaknya turun dari punggung keledai dan kemudian gantian Nasarudin yang naik di punggung keledai. Belum berjalan jauh, ketemu lagi dengan temannya semasa sekolah. Dengan setengah mengejek si teman inipun berkata, ORANG TUA KOQ GAK PUNYA BELAS KASIHAN, MASAK ANAKNYA DISURUH BERJALAN MENUNTUN KELEDAI, SEDANGKAN DIA SENDIRI DUDUK ENAK-ENAKAN DIATAS PUNGGUNG KELEDAI. MEMANG ORANG TUA GAK SAYANG SAMA ANAK.
Merasa disindir demikian, maka Nasarudin meminta anaknya untuk naik sekalian diatas punggung keledai. Sekarang keledai itu dinaiki oleh 2 orang, yaitu Nasarudin dan anaknya. Belum berjalan jauh, ketemu lagi dengan temannya bermain ketika Nasarudin masih kecil. Dengan sambil tertawa mengejek teman ini berkata, HA HA HA ..... DIN, DIN. MASAK KELEDAI SEKECIL INI KAMU NAIKI BERDUA. APA GAK KASIHAN SAMA KELEDAINYA DIN. INGAT DIA JUGA MAKHLUK TUHAN LHO DIN ....
Merasa salah, maka sekarang Nasarudin dan anaknya turun dan berjalan disamping keledainya. Namun demikian belum berjalan lama, ketemu lagi dengan temannya. Komentar temannya, DIN .. DIN .. KAMU ITU BODOH APA GAIMANA SIH, MASAK ADA KELEDAI GITU GAK KAMU NAIKI. ANAKMU KHAN CAPAI DIN, COBA TUH LIHAT ... KASIHAN KHAN ANAKMU.
Sahabat, marilah kita renungkan. Bukankah situasi seperti Nasarudin itu pernah juga kita alami. Kita sering mengeluh double GS alias Gini Salah Gitu Salah. Setiap orang mempunyai suduh pandang, value yang berbeda, yang kemudian dipakai untuk menghakimi. Oleh karena itu seven habit mengajarkan kepada kita untuk pro aktif artinya dalam merespond sesuatu selalu ada pertimbangan yang matang yang difahami termasuk juga konsekwensinya. Kebalikannya adalah reaktif yang dalam merespond sesuatu dengan sedikit pertimbangan. Prinsip dan Konsep diri yang mantap lah dasar dan kunci pro aktif yang akan menghindarkan dari kebingungan karena komentar fihak lain.
20 Februari 2011
31 Oktober 2010
Ada satu keluarga yang tinggal di pinggiran kota besar
Mereka mengontrak rumah dengan kondisi yang hanya cukup untuk sebagai tempat untuk berlindung dan berteduh dari panas dan hujan.
Secara ekonomi kehidupan keluarga ini jauh dari kehidupan yang layak, cukup, berada ataupun mapan.
Penghasilan yang tidak menentu, hanya cukup untuk makan sehari-hari istri dan kedua buah hatinya yang masih sangat membutuhkan biaya untuk sekolah.
Si Ayah setiap harinya membuka jasa tukang tambal ban di pinggir jalan.
Sedangkan si Ibu jadi buruh cuci pakaian di rumah-rumah tetangga sekitarnya.
Begitulah kehidupan keluarga ini sudah dijalani bertahun-tahun,
Namun keluarga ini tidak pernah mengeluh atau protes atas kehidupan yang telah ditakdirkan oleh Allah kepada mereka.
Malah justru sebaliknya keluarga ini sangat mensyukuri atas apa yang telah dikaruniakan oleh Allah, kepada mereka
Diberi kehidupan yang tentram, damai dan kesehatan itu sudah suatu kenikmatan yang luar biasa bagi mereka.
Dan terus tekun beribadah untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Sholat lima waktunya tidak pernah bolong.
Puasa sudah menjadi kebiasaan mereka.
Dengan penghasilan yang tidak menentu mereka masih bisa menabung walaupun sedikit
Yang lebih mengagumkan lagi, tidak lupa disisihkan sebagian dari penghasilan mereka yang pas-pasaan untuk disedekahkan kepada yang berhak.
Suatu malam si Ayah berbincang-bincang dengan si Ibu dibangku kayu depan rumah, sedangkan kedua buah hati mereka sudah terlelap :
Ayah : Ibu, apa ibu menyesal dengan kehidupan kita jalani sekarang.
Ibu : Tidak pak. Ya ini memang sudah yang telah di takdirkan Allah kepada kita.
Ayah : apa ibu punya keinginan
Ibu : sebenarnya Ibu ingin sekali melaksanakan rukun islam yang ke lima
Dengan agak kaget, bukan karena keinginan yang tidak mungkin dapat terpenuhi, tapi karena keinginan si Ibu ini sama dengan keinginan si Ayah.
Ternyata mereka sudah lama mempunyai keinginan yang sama. Yaitu menjalankan ibadah haji untuk memenuhi panggilan Allah.
Seperti ada kekuatan yang maha dahsyat yang dirasakan si ayah yang mendorongnya untuk segera bermunajat kepada Allah.
Dipeluknya si Ibu, dengan suara bergetar si Ayah berkata: “Ayah juga punya keinginan yang sama, ayo bu segera ambil air wudhu kita sholat bersama dan
Bermunajat kepada Allah. Si ayah merasa yakin sekali bahwa do’a-do’a nya di dengar oleh Allah.
Dengan keyakinan yang sangat kuat bahwa Allah akan mengabulkan do’a-do’a hambaNya.dan dengan terus berikhtiar.
Ayah : bu, mulai besok, ayah buka tambal ban sampai malam, tapi ayah tidak meminta ongkos, ayah niatkan untuk ibadah kepada Allah.
Ibu : Alhamdulillah, mudah-mudah Allah memberi kemudahan kepada kita.
Begitulah waktu berjalan sejak hari itu si Ayah buka jasa tambal ban mulai pagi hingga malam hari.
Pagi sampai sore tetap ditarik ongkos, setelah sholat maghrib tidak titarik ongkos.
Di luar dugaan,setiap hari tambal ban si ayah ramai tidak seperti biasanya.
Sudah berpuluh puluh sepeda motor dan mobil yang menikmati jasa tambal ban gratis si ayah bila malam hari
Seiring waktu berjalan, suatu malam kurang lebih jam 19:30 tiba- tiba ada mobil mewah yang berhenti di tempat tambal ban si ayah.
Keluarlah dari mobil seorang pria paro bayah dengan pakaian necis dengan nama “si kaya”. mendekatlah si ayah sambil bertanya;
Ayah : maaf, bisa saya bantu pak
Si kaya : ban mobil saya bocor, tolong di tambal, jangan lama-lama pak.!!
Ayah : baik pak, saya usahakan.
Bongkar pasang dan tambal ban, sudah menjadi makanan Ayah sehari-hari, jadi dalam waktu 10 menit, sudah selesai semua.
Ayah : Sudah selesai pak, silahkan jalan, hati-hati.
Si Kaya : berapa ongkosnya..?, Tanya si kaya sambil mengambil uang kecil di dashboard mobil.
Ayah : Tidak usah pak terima kasih, silahkan jalan.
Si kaya : ini uang jasa bapak, yang sudah menambal ban mobil saya.
Ayah : terimah kasih pak, saya sudah berjanji karena saya niatkan kerja saya ini hanya untuk beribadah kepada Allah.
Karena terburu-buru dan tidak mau terus berdebat akhirnya si kaya pergi meninggalkan ayah yang masih berdiri.
Sepulang dari keperluannya, sambil menjalankan mobil si kaya dalam hatinya terus bertanya-tanya. Mengapa tukang tambal ban tadi tidak mau di kasih uang.
Dan kata-kata tukang tambal ban itu, terus terngiang-ngiang di telinga si kaya “saya niatkan kerja saya ini hanya untuk beribadah kepada Allah”
Karena tidak tahan dengan rasa keingin tahuan akan alasan si tukang tambal ban. Siapakah bapak si tukang tambal ban itu sebenarnya ?
Sebulan kemudian datanglah kembali si kaya ke tempat tambal ban.
Ayah : maaf, bisa saya bantu pak ?
Si kaya : bapak masih ingat dengan saya, waktu ban mobil saya ini bocor, dan bapak tidak mau saya kasih ongkos….!!!!
Ayah : yang menambal ban disini banyak, maaf pak kalo saya lupa, ada apa ya pak ??
Tanya si ayah agak sedikit takut, mungkin ada yang salah pada saat menambal,sehingga menimbulkan kerusakan atau ada barang yang tertinggal. !!?? berbagai
pertanyaan bergayut di benak si ayah.sambil terus mempersilahkan duduk si kaya di bangku kayu alakadarnya.
Si kaya : Tidak pak, saya penasaran saja. Kenapa bapak tidak mau dikasih ongkos, dan bapak juga berjanji, niat kerja bapak hanya untuk beribadah kepada Allah.!?
Maka mulai berceritalah si ayah dari awal hingga akhir, bahwa ini semua mereka lakukan karena keinginan yang sangat kuat untuk menjalankan ibadah haji memenuhi
panggilan Allah. Lalu dengan mata berkaca-kaca, si kaya balik bercerita kepada ayah .
si kaya : bapak, Mungkin ini sudah menjadi kehendak Allah,mempertemukan saya dengan bapak, ketahuilah bahwa ketika ban mobil saya bocor,dan saya menambal ban
di tempat bapak. Itu adalah perjalanan saya menuju suatu tempat, karena sudah ada janji untuk ketemuan langsung dengan client-client saya, jam 20.00.
Saya tidak bisa membayangkan seandainya tidak ada bapak yang buka tambal ban disini,dan bapak lebih dari 10 menit untuk menambal ban mobil saya,
sehingga saya terlambat dan mungkin saya akan kehilangan kesempatan yang sangat berharga bagi kemajuan perusahaan saya.dan saya
sudah tidak akan dipercaya lagi oleh client-client saya, karena sudah ingkar janji. Dan perlu bapak ketahui juga dari hasil pertemuan itu perusahaan saya telah
memenangkan tender yang nilai keuntungannya miIlyaran rupiah. bapak, oleh karena itu saya akan memberikan hadiah untuk bapak, seperti apa yang bapak dan ibu
inginkan.yaitu berangkat ibadah haji ke tanah suci dan bersama-sama dengan saya.
Mendengar pernyataan si kaya, badan ayah seperti bergetar antara percaya dan tidak, maka di panggilnya si ibu yang ada di dalam bilik bersama kedua anaknya.
Dipeluknya istri dan kedua anaknya, diajaknya mereka mengucap syukur kepada Allah, bahwa apa yang telah mereka lakukan dengan tulus dan ikhlas ini tidak sia-sia
Dan do’a-do’a yang mereka panjatkan tiap hari akhirnya terjawab sudah.
Tidak sampai disitu kalau Allah sudah berkehendak, sepulang dari tanah suci, keluarga ini akhirnya di pekerjakan di perusahaan si kaya. Ayah di jadikan pejaga gedung,
Dan Ibu di kantin perusahaan, dan mereka sekarang tinggal di lingkungan perusahaan.Kedua buah hatinya juga bisa sekolah.
“Ya Allah ampuni dosa kami, karena hamba-hambaMU penuh dengan dosa”
“Ya Allah berikanlah petunjukMU agar kami dimudahkan dalam segala urusan”
“Ya Allah berikanlah kami kesehatan, agar kami dapat terus beribadah kepadaMU”
“Ya Allah bukakanlah hati kami, agar kami jadi hamba-hambaMU yang ikhlas dan pandai bersyukur”
“Manusia hanya bisa berencana namun tetap Allah yang menentukan”
“tidak sulit bagi Allah untuk mengubah kehidupan manusia,semudah membalikkan telapak tangan”
( diambil dari email kiriman sahabat )
Mereka mengontrak rumah dengan kondisi yang hanya cukup untuk sebagai tempat untuk berlindung dan berteduh dari panas dan hujan.
Secara ekonomi kehidupan keluarga ini jauh dari kehidupan yang layak, cukup, berada ataupun mapan.
Penghasilan yang tidak menentu, hanya cukup untuk makan sehari-hari istri dan kedua buah hatinya yang masih sangat membutuhkan biaya untuk sekolah.
Si Ayah setiap harinya membuka jasa tukang tambal ban di pinggir jalan.
Sedangkan si Ibu jadi buruh cuci pakaian di rumah-rumah tetangga sekitarnya.
Begitulah kehidupan keluarga ini sudah dijalani bertahun-tahun,
Namun keluarga ini tidak pernah mengeluh atau protes atas kehidupan yang telah ditakdirkan oleh Allah kepada mereka.
Malah justru sebaliknya keluarga ini sangat mensyukuri atas apa yang telah dikaruniakan oleh Allah, kepada mereka
Diberi kehidupan yang tentram, damai dan kesehatan itu sudah suatu kenikmatan yang luar biasa bagi mereka.
Dan terus tekun beribadah untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Sholat lima waktunya tidak pernah bolong.
Puasa sudah menjadi kebiasaan mereka.
Dengan penghasilan yang tidak menentu mereka masih bisa menabung walaupun sedikit
Yang lebih mengagumkan lagi, tidak lupa disisihkan sebagian dari penghasilan mereka yang pas-pasaan untuk disedekahkan kepada yang berhak.
Suatu malam si Ayah berbincang-bincang dengan si Ibu dibangku kayu depan rumah, sedangkan kedua buah hati mereka sudah terlelap :
Ayah : Ibu, apa ibu menyesal dengan kehidupan kita jalani sekarang.
Ibu : Tidak pak. Ya ini memang sudah yang telah di takdirkan Allah kepada kita.
Ayah : apa ibu punya keinginan
Ibu : sebenarnya Ibu ingin sekali melaksanakan rukun islam yang ke lima
Dengan agak kaget, bukan karena keinginan yang tidak mungkin dapat terpenuhi, tapi karena keinginan si Ibu ini sama dengan keinginan si Ayah.
Ternyata mereka sudah lama mempunyai keinginan yang sama. Yaitu menjalankan ibadah haji untuk memenuhi panggilan Allah.
Seperti ada kekuatan yang maha dahsyat yang dirasakan si ayah yang mendorongnya untuk segera bermunajat kepada Allah.
Dipeluknya si Ibu, dengan suara bergetar si Ayah berkata: “Ayah juga punya keinginan yang sama, ayo bu segera ambil air wudhu kita sholat bersama dan
Bermunajat kepada Allah. Si ayah merasa yakin sekali bahwa do’a-do’a nya di dengar oleh Allah.
Dengan keyakinan yang sangat kuat bahwa Allah akan mengabulkan do’a-do’a hambaNya.dan dengan terus berikhtiar.
Ayah : bu, mulai besok, ayah buka tambal ban sampai malam, tapi ayah tidak meminta ongkos, ayah niatkan untuk ibadah kepada Allah.
Ibu : Alhamdulillah, mudah-mudah Allah memberi kemudahan kepada kita.
Begitulah waktu berjalan sejak hari itu si Ayah buka jasa tambal ban mulai pagi hingga malam hari.
Pagi sampai sore tetap ditarik ongkos, setelah sholat maghrib tidak titarik ongkos.
Di luar dugaan,setiap hari tambal ban si ayah ramai tidak seperti biasanya.
Sudah berpuluh puluh sepeda motor dan mobil yang menikmati jasa tambal ban gratis si ayah bila malam hari
Seiring waktu berjalan, suatu malam kurang lebih jam 19:30 tiba- tiba ada mobil mewah yang berhenti di tempat tambal ban si ayah.
Keluarlah dari mobil seorang pria paro bayah dengan pakaian necis dengan nama “si kaya”. mendekatlah si ayah sambil bertanya;
Ayah : maaf, bisa saya bantu pak
Si kaya : ban mobil saya bocor, tolong di tambal, jangan lama-lama pak.!!
Ayah : baik pak, saya usahakan.
Bongkar pasang dan tambal ban, sudah menjadi makanan Ayah sehari-hari, jadi dalam waktu 10 menit, sudah selesai semua.
Ayah : Sudah selesai pak, silahkan jalan, hati-hati.
Si Kaya : berapa ongkosnya..?, Tanya si kaya sambil mengambil uang kecil di dashboard mobil.
Ayah : Tidak usah pak terima kasih, silahkan jalan.
Si kaya : ini uang jasa bapak, yang sudah menambal ban mobil saya.
Ayah : terimah kasih pak, saya sudah berjanji karena saya niatkan kerja saya ini hanya untuk beribadah kepada Allah.
Karena terburu-buru dan tidak mau terus berdebat akhirnya si kaya pergi meninggalkan ayah yang masih berdiri.
Sepulang dari keperluannya, sambil menjalankan mobil si kaya dalam hatinya terus bertanya-tanya. Mengapa tukang tambal ban tadi tidak mau di kasih uang.
Dan kata-kata tukang tambal ban itu, terus terngiang-ngiang di telinga si kaya “saya niatkan kerja saya ini hanya untuk beribadah kepada Allah”
Karena tidak tahan dengan rasa keingin tahuan akan alasan si tukang tambal ban. Siapakah bapak si tukang tambal ban itu sebenarnya ?
Sebulan kemudian datanglah kembali si kaya ke tempat tambal ban.
Ayah : maaf, bisa saya bantu pak ?
Si kaya : bapak masih ingat dengan saya, waktu ban mobil saya ini bocor, dan bapak tidak mau saya kasih ongkos….!!!!
Ayah : yang menambal ban disini banyak, maaf pak kalo saya lupa, ada apa ya pak ??
Tanya si ayah agak sedikit takut, mungkin ada yang salah pada saat menambal,sehingga menimbulkan kerusakan atau ada barang yang tertinggal. !!?? berbagai
pertanyaan bergayut di benak si ayah.sambil terus mempersilahkan duduk si kaya di bangku kayu alakadarnya.
Si kaya : Tidak pak, saya penasaran saja. Kenapa bapak tidak mau dikasih ongkos, dan bapak juga berjanji, niat kerja bapak hanya untuk beribadah kepada Allah.!?
Maka mulai berceritalah si ayah dari awal hingga akhir, bahwa ini semua mereka lakukan karena keinginan yang sangat kuat untuk menjalankan ibadah haji memenuhi
panggilan Allah. Lalu dengan mata berkaca-kaca, si kaya balik bercerita kepada ayah .
si kaya : bapak, Mungkin ini sudah menjadi kehendak Allah,mempertemukan saya dengan bapak, ketahuilah bahwa ketika ban mobil saya bocor,dan saya menambal ban
di tempat bapak. Itu adalah perjalanan saya menuju suatu tempat, karena sudah ada janji untuk ketemuan langsung dengan client-client saya, jam 20.00.
Saya tidak bisa membayangkan seandainya tidak ada bapak yang buka tambal ban disini,dan bapak lebih dari 10 menit untuk menambal ban mobil saya,
sehingga saya terlambat dan mungkin saya akan kehilangan kesempatan yang sangat berharga bagi kemajuan perusahaan saya.dan saya
sudah tidak akan dipercaya lagi oleh client-client saya, karena sudah ingkar janji. Dan perlu bapak ketahui juga dari hasil pertemuan itu perusahaan saya telah
memenangkan tender yang nilai keuntungannya miIlyaran rupiah. bapak, oleh karena itu saya akan memberikan hadiah untuk bapak, seperti apa yang bapak dan ibu
inginkan.yaitu berangkat ibadah haji ke tanah suci dan bersama-sama dengan saya.
Mendengar pernyataan si kaya, badan ayah seperti bergetar antara percaya dan tidak, maka di panggilnya si ibu yang ada di dalam bilik bersama kedua anaknya.
Dipeluknya istri dan kedua anaknya, diajaknya mereka mengucap syukur kepada Allah, bahwa apa yang telah mereka lakukan dengan tulus dan ikhlas ini tidak sia-sia
Dan do’a-do’a yang mereka panjatkan tiap hari akhirnya terjawab sudah.
Tidak sampai disitu kalau Allah sudah berkehendak, sepulang dari tanah suci, keluarga ini akhirnya di pekerjakan di perusahaan si kaya. Ayah di jadikan pejaga gedung,
Dan Ibu di kantin perusahaan, dan mereka sekarang tinggal di lingkungan perusahaan.Kedua buah hatinya juga bisa sekolah.
“Ya Allah ampuni dosa kami, karena hamba-hambaMU penuh dengan dosa”
“Ya Allah berikanlah petunjukMU agar kami dimudahkan dalam segala urusan”
“Ya Allah berikanlah kami kesehatan, agar kami dapat terus beribadah kepadaMU”
“Ya Allah bukakanlah hati kami, agar kami jadi hamba-hambaMU yang ikhlas dan pandai bersyukur”
“Manusia hanya bisa berencana namun tetap Allah yang menentukan”
“tidak sulit bagi Allah untuk mengubah kehidupan manusia,semudah membalikkan telapak tangan”
( diambil dari email kiriman sahabat )
Langganan:
Postingan (Atom)