20 Mei 2026

MEMAAFKAN SHAREEN

 Kewajiban Memaafkan

 Oleh Noor Aidlon

M

alam itu, dilantai 8 kantor Karawaci - pukul 9 - pada bulan Januari - 15 tahun yang lalu, boss kami : Shareen marah besar. Beberapa kali, kata kata makian keluar dari lesannya. Kemarahan dan makian itu ditujukan kepada saya khususnya dan team saya ikut kecipratan getahnya.

Malam itu saya didampingi Mas Febri, Mbak Rina dan mbak Titik. Awalnya kami rapat dengan team Audit dari PWc.

Selama presentasi, Shareen memberikan apresiasi dan memuji team kami. Dari 100% temuan team audit, 90% bisa kami selesaikan dalam waktu 1 bulan.

Habis rapat kami menjalankan sholat Maghrib dan makan malam. Kamudian Shareen mengajak rapat lagi. Membahas 10% temuan audit yang belum diselesaikan.

Dalam rapat itu, dia bertanya : kapan 10% nya bisa diselesaikan. Mei, jaawab saya. Mengapa lama ? You finished 90 % in one month and you need 4 months to finish the rest 10%. It is not acceptable. Tambahnya dengan suara mulai meninggi.

Saya jelaskan 10% itu sisa yang paling sulit, tidak bisa dibandingkan dengan 90% yang mudah. It is not comparable.

Dia minta kami menyelesaikan dalam waktu 1 bulan. Saya bilang tidak bisa. Dia mulai marah. Are you crazy or what ? Teriaknya. Saya tetap tidak mau turun dari Mei. Dia tambah marah. Mulai keluar kata kata makian.

Mas Febry yang duduk di sebelah mulai menginjak kaki saya dengan mata berkedip kasih kode untuk mengalah.

Saya kenal Shareen. Dia selalu memburu apa yang dijanjikan. Makanya saya tetap tidak bergeming dari Mei. Dia tetap marah. Keluar kata kata ini : Kalau tidak sanggup menyelesaikan pada akhir Februari, it is better for you to find new job. Saya diminta cari kerjaan lain.

Mas Febry senggol senggol saya. Saya lihat Mbak Rina dan Mbak Titik. Mereka kasih kode : Iyakan saja dulu.

Ruang rapat yang luas terasa sempit. Kami hening sesaat. Tinggal detik detik jam dinding yang terdengar jelas. Saya tengok jam itu. Hampir jam 10. Sudah cukup larut malam.

Saya ingat pelajaran negosiasi. Keluarlah kalimat saya :  Beri kami waktu untuk menghitung ulang. Besuk kami akan berikan konfirmasinya.

Rapat ditutup. Kami berbenah untuk pulang.  Sejenak kemudian sambil berdiri, dengan ringan dan tersenyum dia bilang see you tomorrow. Seakan tidak pernah terjadi apa apa. Sementara kami masih merasa jengkel dan sakit hati.

Ketika kami keluar dari lift yang ada di lobby, dia memanggil dan bertanya : Ada mobil. Kalau tidak ada, bareng aku saja.

Mobil dia dan mobil saya datang hampir bersamaan. Dia masuk mobil sambil melambaikan tangan dan tersenyum. Saya masuk mobil sambil menggerutu penuh kejengkelan.

Selama dalam perjalanan dari Karawachi ke Tebet saya merenung. Dia yang ngomel ngomel saja sudah lupa apa yang diomelkan, mengapa saya tetap memikirkannya. Tetap sakit hati. Lalu siapa yang salah ini, kata hati saya.

Pagi harinya saya datang ke ruangannya. Dia menyapa dengan baik. Mengajak ngobrol yang ringan ringan.

Sesaat kemudian saya bicara tentang target waktu yang diperdebatkan semalam.

Saya jelaskan pelan pelan, saya tunjukkan datanya.  10% yang tersisa itu tidak sepenuhnya under control kami. Hampir semua melibatkan fihak lain. Fihak ke tiga. Itulah sebabnya, mengapa kami menjanjikan Mei.

Got it Pak. Katanya cepat. Respond yang diluar dugaan saya. Berbalik 180° dari respond malam sebelumnya. Kemudian dia menambahkan do your best. Saya percaya kepada teammu Pak.

Ini persis dengan temuan Jhon Gottman, 69% orang merasa tersakiti, terdzalimi karena miskomunikasi dan perbedaan kepribadian. Tidak ada niatan dan kesengajaan untuk menyakiti.

Shareen, orang Fiji dan kami orang Indonesia, suku Jawa lagi - yang sangat perasa. Perbedaan kepribadian dan budaya menyebabkan salah dalam menterjemahkan ucapan dan nada bicara.

Belum lagi, keterbatasan bahasa Inggris menyebabkan kami kurang tepat dalam memilih kata kata. Sehingga dia salah mengerti maksud kami yang sebenarnya.

Shareen tidak sadar kalau kata katanya menyakiti kami. Bahkan dia tidak tahu itu. Perbedaan latar belakang budaya, kepribadian adalah penyebabnya. Makanya dia bersikap biasa biasa saja. Seolah olah tidak terjadi apa apa.

Seandainya kami tidak memaafkan ( yang kami anggap kesalahan ) Shareen, tentu kami tidak bisa move on. Tentu kami akan terbelenggu dalam dendam yang merusak ketenangan hati. Merusak hubungan antarpersonal kami.

Itulah mengapa di dalam Al Quran banyak ayat yang menganjurkan memberikan maaf atau memaafkan orang lain.

Memaafkan itu lebih bagimu, kata salah satu ayat.

Karena pada hakekatnya memaafkan itu untuk kepentingan diri kita sendiri. Bukan orang lain.

Bukan pula untuk Shareen.

Sby, 24 April 2026
NA.

02 Januari 2026

TITIK BALIK

U Turn Traffic Sign, SKU: K-7180 

 Oleh Noor Aidlon

S

elalu menarik mendengarkan cerita titik balik - turning point - yang dialami seseorang. Yakni satu kejadian yang mampu mengubah perjalanan hidupnya. Perjalanan hidup yang berubah 180° dari perjalanan hidup sebelumnya.
 
Beberapa minggu yang lalu, ketika saya menjenguk Pak Darman di RSUA Surabaya, saya bertemu putri pertamanya. Dia mengaku yunior saya di sebuah bank swasta terbaik pada zamannya. Dia masuk melalui program pendidikan pada tahun 2003, jauh dibawah angkatan saya. Tidak sekedar jauh. Tapi jauh sekali.

Saat ini dia aktif menjadi trainer, menjadi ustadzah di sebuah lembaga pendidikan. Spesialisasinya adalah parenting dan Gen Z.

Saat masih bekerja di bank, dia sudah menduduki jabatan tertentu. Suaminya juga seorang profesional. Yang juga sangat sibuk.

Dilema mulai muncul ketika dia sudah mempunyai 2 orang anak. Apakah dia tetap mengejar karir ataukah focus mendidik ke dua anaknya.

Dari diskusi dengan suaminya, akhirnya diputuskan dia tetap berkarir, sedangkan untuk menjaga kedua anaknya, dia pekerjakan 2 orang baby sister.  Masalah selesai. Untuk sementara waktu.

Sampai pada suatu hari.  Ketika berada di kantor, dia mendapat kabar anaknya jatuh pingsan. Dia buru buru pulang sambil menangis dengan membawa beban rasa bersalah. Rasa bersalahnya seorang ibu yang penuh cinta kasih.

Saat itulah hatinya mantap untuk berhenti bekerja - mengejar karir. Beberapa bulan dia focus pada keluarganya. Sampai pada suatu saat ada temannya yang menawarkan untuk menjadi trainer yang tidak mengikat. Tidak mengikat waktunya untuk mendidik dan mengabdikan ilmunya bagi masyarakat.

Cerita yang hampir sama dialami oleh sahabat baik saya. Seorang wanita juga. Yang juga sudah menduduki posisi jabatan. 

Bertahun tahun dia ancang ancang mau keluar dari bank. Beberapa kali dia minta pertimbangan saya. Selalu saya bilang diskusikan dengan suamimu. Suaminya merestuinya. Namun kebimbangan masih menguasai hatinya.

Sampai suatu saat. Di hari Jumat, ketika karyawan laki laki muslim pergi sholat jumat. Ketika banyak karyawan lainnya pada makan siang. Dia sendirian di kantor. Dia buka medsos. Ada sebuah foto - 2 orang anak duduk berjejer. Di caption tertulis : Kasihan anak ini, sendirian menunggu jemputan.

Hatinya meradang melihat foto itu. Itu anak anak ku, teriaknya dalam hati. Saat itulah hatinya mantap untuk resign.

Dan kini dia menjadi seorang trainer yang sangat laris. Pendapatan dari mengajarnya berlipat lipat dibanding dari gajinya yang dulu. Kini hatinya lebih tenang. Hidupnya lebih berkah. Tampaknya.

Beberapa minggu yang lalu, di Masjid Al Mu'thi Surabaya, kajian subuh diisi oleh Ust Ir. Misbachul Huda, MBA. Pak ustadz membawakan materi berjudul self leadership. Salah satu slide membahas mengenai titik balik.

Saat diskusi, seorang jamaah yang dokter spesialis menceritakan pengalaman pribadinya.

Bagaimana dulu, teman teman sejawatnya di FK Unair selalu mengatakan begini : Sampai kapan kamu begini terus. Duniawi saja yang kau kejar.

Peringatan seperti itu tidak hanya sekali dua kali disampaikan teman sejawatnya. Namun sering sekali. Bahkan hampir setiap bertemu.  Namun tidak pernah digubrisnya. Tidak pernah dihiraukannya.

Sampai suatu waktu dia mampir sholat Ashar di masjid ini. Sangat jarang dia mampir ke masjid yang selalu dilewatinya ini. Entah kenapa dia mampir sore itu.

Selepas sholat dia melihat 2 orang pedagang - bakso dan roti keliling. Dia hampiri kedua pedagang itu. Dia lihat masih banyak bakso di rombongnya. Pun masih banyak roti di box yang ditaruh di atas sadel belakang sepeda motornya.

Habis dari masjid ini langsung pulang Pak ya, tanyanya kepada kedua pedagang itu. Dia mengira kedua pedagang itu sudah mau pulang.  Mboten Pak. Tidak Pak, ini masih keliling lagi. Ada panggilan sholat, kami sholat Pak. Karena yang memanggil yang kasih rezeki masak mau diabaikan.

Dia sangat kaget dengan jawaban itu. Kalimat yang tidak pernah ada dalam fikirannya. Panggilan dari yang kasih rezeki. Dia renungkan kalimat itu. Berkali kali.

Selama ini dia mengerjakan sholat pada sisa waktunya. Sisa waktu dalam mengejar rezeki. Bukan menyediakan dan mengutamakan waktu untuk sholat.

Dia lebih mengutamakan panggilan pasien daripada panggilan yang membuat pasiennya datang. Sejak saat itu dia sholat pada awal waktu, berjamaah di masjid. Dia rajin belajar agama. Dia belajar hukum Allah - sang pencipta bumi yang ditempatinya.

Titik balik – titik yang membalikkan jalan hidup seseorang. Pemicunya bisa bermacam macam. Dan kebanyakan  datang dengan “tidak sengaja”.  Dalam bahasa agama, itulah hidayah. Hidayah memang harus dicari. Masalah dapat tidaknya, itu tergantung yang memberi.

Kds, 26 Desember 2025