25 Mei 2026

NYAWANYA LALU ANAKNYA

 Ini Adalah Alasan Kenapa Naik Tangga itu Menyehatkan | Yesdok.com

 Oleh Noor Aidlon

N

abi Ibrahim, sebelum diuji dengan mengorbankan nyawa anaknya, terlebih dahulu diuji dengan mengorbankan nyawanya sendiri. 

Kita tahu, saat itu raja Namrud memberikan 2 pilihan sulit kepada Nabi Ibrahim, yakni meninggalkan agamanya atau kehilangan nyawanya. Nabi Ibrahim memilih tidak meninggalkan agamanya. Memilih ngeboti agamanya dibanding dengan nyawanya. Walhasil Raja Namrud memerintahkan pasukannya untuk menangkapnya. Lalu membakarnya.

Kita juga tahu - bagi yang sudah mempunyai anak - nyawa anak jauh lebih berharga dari nyawanya sendiri. Ujian mengorbankan nyawa anak jauh lebih berat daripada mengorbankan dirinya sendiri.

Sebelum diuji dengan mengorbankan nyawanya, Nabi Ibrahim pun terlebih dahulu diuji dengan cemoohan dan perlawanan kaumnya. Mereka menganggap Nabi Ibrahim telah nyalahi adat, merusak adat istiadat yang telah dibangun nenek moyangnya. Mereka menganggap Nabi Ibrahim telah gila.

Ini pelajaran dari Allah.  Bahwa ujian yang diberikan haruslah disesuaikan dengan kemampuannya. Bobot ujian harus disesuaikan dengan kelasnya.

Allah tidak membebani seseorang, kecuali menurut kesanggupannya ( Qs Al Baqarah 286 ).

Mula mula beliau diuji berselisih dengan ayahnya. Kemampuannya meningkat, lalu diuji dengan yang lebih berat : perlawanan kaumnya. Keimanannya lebih kokoh, diuji dengan yang lebih berat lagi : mengorbankan nyawanya. Dan terakhir diuji dengan mengorbankan nyawa anaknya. Semua ujian dilaluinya dengan sempurna. Itulah Nabi yang dikenal sebagai bapaknya para nabi.

Begitulah. Ujian seharusnya dimulai dari yang kecil. Demikian juga dengan ujian yang berupa harta. 

(yaitu) orang-orang yang selalu berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit ( QS Ali Imran 134 ).

Pada waktu sempitpun, diminta berinfak. Apa maknanya ? 

Bisa dibayangkan. Bagaimana kalau seseorang baru mulai berinfak ketika sudah kaya.  Misalnya ketika jumlah hartanya sdh mencapai Rp 500 juta, kemudian diminta berinfak Rp 50 juta - 10% nya, pasti akan terasa sangat berat. Karena belum terlatih.

Bandingkan dengan orang yang mempunyai uang Rp 100.000, diminta Rp 20.000 pun akan dikasihkan. Padahal itu 20% nya !

Beberapa pekan yang lalu, teman saya cerita : hari itu uang di dompetnya tinggal Rp 5.000. Tabungannyapun bersaldo minimum, artinya sudah tidak bisa diambil lagi.

Bagaimana ceritanya Pak, tanya saya. Hari sebelumnya uang yang ada di dompet masih Rp 500.000 lebih sedikit. Lha koq panitia pengajian bilang kalau dana konsumsi kurang Rp 500.000. Bisakah kekurangannya ditutup, pinta panitia. 

Saya diam sebentar, lanjutnya. Saya ingat : bensin motor barusan diisi penuh, cukup untuk perjalanan ke kantor seminggu. Uang kebutuhan keluarga sudah aman ditangani istri.  Gajian tinggal 3 hari lagi. Bismillah, akhirnya saya kasihkan uang di dompet saya. Yang tertinggal hanya recehannya. Ya ini Pak, sambil menunjukkan isi dompetnya. Panjenengan Hebat Pak. Saya hanya bisa komentar begitu.

Saya yakin, teman saya ini sudah belajar berinfak sejak lama, sejak masih kecil. Makanya ringan saja mengeluarkan uang infak.

Sementara dalam suatu forum saya pernah mengajukan pertanyaan kepada peserta. Seandainya, uang gajianmu sebulan, misalnya besarnya Rp 25 juta. Diminta semua untuk infak.  Sedangkan saldo tabunganmu masih Rp 150 juta, 6 kali gaji. Kira kira kamu berikan ? Tidak ada yang menjawab.

Atau, ketika dihitung – zakat yang harus kamu bayar besarnya Rp 400 juta. Seharga mobil baru, kualitas cukup baik. Apakah kamu pilih bayar zakat atau pilih beli mobil baru.

Di sisi lain, ada satu cerita nenek tua, janda harus menabung setahun penuh agar bisa membeli kambing untuk qurban. Dia lebih suka menyisihkan uangnya untuk menabung daripada mengganti sandal yang sudah usang.

Itulah keimanan. Ditanamkan sejak kecil. Dipupuk selama masih diberi hidup. Dan disiangi sampai dipanggil mati.

Kalau tidak, dia akan dimakan hama, layu, kemudian mati sendiri.

Sby, 24 Mei 2026
NA

 

SEGELAS DAN SEKOLAM AIR

Foto Segelas Air Dengan Latar Belakang Putih Foto Dan Gambar ...

Oleh Noor Aidlon

... Orang yang menahan amarahnya ( QS Imran 134 ).

P

agi itu, di dalam masjid seakan dipenuhi suara ribuan lebah yang mendengung. Dengungan lirih itu keluar dari lesan lesan santri yang sedang mengaji. Suara pelan keluar dari bibir ratusan santri dengan nada yang sama. Melantunkan ayat ayat suci. Membuat hati siapapun yg mendengarnya menjadi adem. Tenteram.

Sementara di ruang sebelah, Pak Kyai duduk dengan salah satu santrinya. Santri baru yang terkenal paling baperan,  mudah tersinggung. Suka ngambek. Pun suka marah.  Terganggu sedikit - ngambeknya minta ampun.

Ruangan itu terasa hening. Di atas meja depan santri telah disiapkan segelas air minum.  Pak Kyai mempersilakan santri meminumnya. Diminumlah beberapa teguk. Bagaimana rasanya, tanya Pak Kyai. Seger Pak. Terima kasih.

Pak Kyai kemudian mengambil 3 sendok garam. Diadukanya ke dalam air yang ada di gelas. Sekarang kau cicipi lagi. Asin Pak. Mengapa bisa begitu, tanya Pak Kyai. Karena tadi dicampur 3 sendok garam. Ehm, gitu ya, kata Pak Kyai sambil tersenyum.

Sekarang ikut Bapak, ajak Pak Kyai. Ternyata santri itu di ajak jalan ke kolam. Kolam milik pesantren.  Mereka duduk di pinggir kolam.  Sejenak kemudian Pak Kyai menyuruh santri mengambil air kolam dengan tangan dan mencicipinya. Segar, katanya setelah memasukkan air ke dalam mulutnya.

Lalu Pak Kyai mengambil 9 sendok garam dimasukkannya ke dalam kolom.  Sambil  mengaduk garam ke dalam air kolam yang bening itu, Pak Kyai minta santrinya mencicipinya kembali. Masih seger, tidak terasa asin sama sekali Pak. Bukankah Bapak tadi memasukkan 9 sendok garam ke dalamnya ? Ya, kata santrinya. Tapi masih seger, tawar tanpa terasa asin sama sekali, tambahnya.

Ditepuknya pundak sang santri,  sambil berujar. Begitu pula dengan manusia nak. Kalau hatinya seluas kolam ini, sedalam kolam ini, dia tidak akan mudah terganggu, tidak akan mudah terpengaruh dengan hal hal kecil. Tapi kalau hatinya hanya seluas gelas, gangguan sekecil apapun akan mempengaruhi suasana hatinya.

Bapak minta, mulai sekarang lapangkanlah hatimu dan jernihkan fikirananmu. Niscaya kau akan selalu merasakan kesejukan hati. Kesejukan hati akan membawa ketenangan jiwa. Jiwamu akan semakin kokoh.

Santri itu menundukkan kepala. Mencerna kata demi kata yang diucapkan Pak Kyai. Hening, sepi.

Pak Kyai berdiri dan jalan pulang ke pondok. Sang santri masih duduk termenung di pinggir kolam. Merenungkan pelajaran yang diberikan Pak Kyai.

Air matanya mulai berlinang, teringat kedua orang tuanya. Orang yang selalu menasihati agar bersabar, tapi tidak pernah diperhatikannya. Tiba tiba rasa rindu timbul dalam dirinya. Ingin segera pulang memeluk orang tuanya. Meminta ampunannya

Pagi itu dia mendapati pelajaran yang sangat berharga. Nasehat yang diberikan tanpa kemarahan. Nasehat yang menghunjam jauh ke dalam hati tanpa menyakiti. Seperti ikan di kolam itu. Berlompatan ke atas air tanpa membuat keruh airnya.

Air sekolam tidak akan tercemari dengan segenggam garam. Hati yang lapang tidak akan mudah tersulut amarah. Itulah manusia spec surga. Seperti panjenengan.

#Sby, 17 Mei 2026
#NA