02 Januari 2026

TITIK BALIK

U Turn Traffic Sign, SKU: K-7180 

 Oleh Noor Aidlon

S

elalu menarik mendengarkan cerita titik balik - turning point - yang dialami seseorang. Yakni satu kejadian yang mampu mengubah perjalanan hidupnya. Perjalanan hidup yang berubah 180° dari perjalanan hidup sebelumnya.
 
Beberapa minggu yang lalu, ketika saya menjenguk Pak Darman di RSUA Surabaya, saya bertemu putri pertamanya. Dia mengaku yunior saya di sebuah bank swasta terbaik pada zamannya. Dia masuk melalui program pendidikan pada tahun 2003, jauh dibawah angkatan saya. Tidak sekedar jauh. Tapi jauh sekali.

Saat ini dia aktif menjadi trainer, menjadi ustadzah di sebuah lembaga pendidikan. Spesialisasinya adalah parenting dan Gen Z.

Saat masih bekerja di bank, dia sudah menduduki jabatan tertentu. Suaminya juga seorang profesional. Yang juga sangat sibuk.

Dilema mulai muncul ketika dia sudah mempunyai 2 orang anak. Apakah dia tetap mengejar karir ataukah focus mendidik ke dua anaknya.

Dari diskusi dengan suaminya, akhirnya diputuskan dia tetap berkarir, sedangkan untuk menjaga kedua anaknya, dia pekerjakan 2 orang baby sister.  Masalah selesai. Untuk sementara waktu.

Sampai pada suatu hari.  Ketika berada di kantor, dia mendapat kabar anaknya jatuh pingsan. Dia buru buru pulang sambil menangis dengan membawa beban rasa bersalah. Rasa bersalahnya seorang ibu yang penuh cinta kasih.

Saat itulah hatinya mantap untuk berhenti bekerja - mengejar karir. Beberapa bulan dia focus pada keluarganya. Sampai pada suatu saat ada temannya yang menawarkan untuk menjadi trainer yang tidak mengikat. Tidak mengikat waktunya untuk mendidik dan mengabdikan ilmunya bagi masyarakat.

Cerita yang hampir sama dialami oleh sahabat baik saya. Seorang wanita juga. Yang juga sudah menduduki posisi jabatan. 

Bertahun tahun dia ancang ancang mau keluar dari bank. Beberapa kali dia minta pertimbangan saya. Selalu saya bilang diskusikan dengan suamimu. Suaminya merestuinya. Namun kebimbangan masih menguasai hatinya.

Sampai suatu saat. Di hari Jumat, ketika karyawan laki laki muslim pergi sholat jumat. Ketika banyak karyawan lainnya pada makan siang. Dia sendirian di kantor. Dia buka medsos. Ada sebuah foto - 2 orang anak duduk berjejer. Di caption tertulis : Kasihan anak ini, sendirian menunggu jemputan.

Hatinya meradang melihat foto itu. Itu anak anak ku, teriaknya dalam hati. Saat itulah hatinya mantap untuk resign.

Dan kini dia menjadi seorang trainer yang sangat laris. Pendapatan dari mengajarnya berlipat lipat dibanding dari gajinya yang dulu. Kini hatinya lebih tenang. Hidupnya lebih berkah. Tampaknya.

Beberapa minggu yang lalu, di Masjid Al Mu'thi Surabaya, kajian subuh diisi oleh Ust Ir. Misbachul Huda, MBA. Pak ustadz membawakan materi berjudul self leadership. Salah satu slide membahas mengenai titik balik.

Saat diskusi, seorang jamaah yang dokter spesialis menceritakan pengalaman pribadinya.

Bagaimana dulu, teman teman sejawatnya di FK Unair selalu mengatakan begini : Sampai kapan kamu begini terus. Duniawi saja yang kau kejar.

Peringatan seperti itu tidak hanya sekali dua kali disampaikan teman sejawatnya. Namun sering sekali. Bahkan hampir setiap bertemu.  Namun tidak pernah digubrisnya. Tidak pernah dihiraukannya.

Sampai suatu waktu dia mampir sholat Ashar di masjid ini. Sangat jarang dia mampir ke masjid yang selalu dilewatinya ini. Entah kenapa dia mampir sore itu.

Selepas sholat dia melihat 2 orang pedagang - bakso dan roti keliling. Dia hampiri kedua pedagang itu. Dia lihat masih banyak bakso di rombongnya. Pun masih banyak roti di box yang ditaruh di atas sadel belakang sepeda motornya.

Habis dari masjid ini langsung pulang Pak ya, tanyanya kepada kedua pedagang itu. Dia mengira kedua pedagang itu sudah mau pulang.  Mboten Pak. Tidak Pak, ini masih keliling lagi. Ada panggilan sholat, kami sholat Pak. Karena yang memanggil yang kasih rezeki masak mau diabaikan.

Dia sangat kaget dengan jawaban itu. Kalimat yang tidak pernah ada dalam fikirannya. Panggilan dari yang kasih rezeki. Dia renungkan kalimat itu. Berkali kali.

Selama ini dia mengerjakan sholat pada sisa waktunya. Sisa waktu dalam mengejar rezeki. Bukan menyediakan dan mengutamakan waktu untuk sholat.

Dia lebih mengutamakan panggilan pasien daripada panggilan yang membuat pasiennya datang. Sejak saat itu dia sholat pada awal waktu, berjamaah di masjid. Dia rajin belajar agama. Dia belajar hukum Allah - sang pencipta bumi yang ditempatinya.

Titik balik – titik yang membalikkan jalan hidup seseorang. Pemicunya bisa bermacam macam. Dan kebanyakan  datang dengan “tidak sengaja”.  Dalam bahasa agama, itulah hidayah. Hidayah memang harus dicari. Masalah dapat tidaknya, itu tergantung yang memberi.

Kds, 26 Desember 2025

 

30 November 2025

ISLAM TAPI TIDAK

10 Ungkapan yang Bisa Membantu Orang ...

Oleh Noor Aidlon

M

adam Ani, nama panggungnya. Nama yang lebih simple, terkesan akrab dan mudah diingat. Dibandingkan dengan nama aslinya. Apalagi kalau dijejer lengkap dengan gelar akademisnya yang panjang itu.

Untuk membacanyapun saya harus ambil nafas dalam terlebih dahulu. Inilah nama lengkapnya : Prof. Dr. Murniati Mukhlisin, M.Acc., CFP, IFP, AEPP, WPPE-PT, QFC.

Pagi itu, dia memakai gaun warna abu abu gelap yang sangat panjang dengan lengan baju sangat panjang dan jilbab juga sangat panjang. Syar’i sekali. Cocok untuk membawakan materi syariat – aturan Islam.

Meskipun demikian, dia tetap bisa bergerak lincah. Beberapa kali naik turun panggung. Menyemangati yang hadir di ruangan. Suaranya keras dan tegas. Sesekali dia memakai istilah dalam bahasa ingris, arab. Dan bahasa melayu dengan cengkok melayunya. Terasa berada di Malaysia. Memang dia pernah tinggal lama disana. Untuk sekolah.

Dia sangat menguasai dan menjiwai materi yang disampaikan. Dirinya telah menyatu dengan materinya. Itulah salah satu kunci sukses seorang presenter. Dirinya yang menjadi pusat perhatian yang hadir dan bukan materi presentasinya. Materinya hanyalah pointer saja. Jangan sampai materi mengalahkan pembicaranya. Orang lebih sibuk membaca materi daripada mendengar paparan pembicaranya. Itulah presentasi yang gagal.

Madam Ani selalu menekankan waris itu harus direncanakan dengan baik agar tidak menjadi musibah keluarga. Calon pewaris dan ahli Waris harus selalu terbuka. Saling menumbuhkan dan menjaga komitmen untuk menerapkan hukum waris Islam. Agar harta warisan menjadi barokah. Barokah bagi pewaris dan barokah bagi ahli waris.

Sebenarnya perencanaan waris ini termasuk dalam kerangka besar : Sakinah Financial Planning ( Perencanaan Keuangan Sakinah ). Mulai dari bagaimana memperoleh pendapatan, membelanjakan untuk keluarga dan sosial sampai pada perencanaan pensiun dan waris.

Sebelum menjelaskan slide dengan judul: Muslim tapi tidak ikut waris Islam. Dia menjelaskan dengan sangat menarik dan logis sekali. Bagaimana seorang Muslim harus mengikuti hukum waris Islam.

Dia menjelaskan begini …

Kita tentu sepakat bahwa harta yang sekarang kita kuasai ini sejatinya adalah milik Allah. Kita hanya dititipi, diberikan amanah untuk mengelolanya. Ketika penerima amanah ini meninggal dunia, bukankah harta harus kembali atau dikembalikan kepada pemberi awal amanah yakni Allah. Nah setelah harta amanah dikembalikan, kemudian Allah mengamanahkan kembali kepada orang orang yang ditunjuk.

Orang yang ditunjuk itu namanya ahli waris. Pembagiannya harus dilakukan sesuai dengan aturan pemberi amanah - Allah. Kalau menyimpang dari aturan, Allah tentu akan mengambilnya kembali harta amanah itu. Dengan cara paksa. Bisa melalui orang jahat, bisa melalui penyakit yang merenggut banyak harta warisan. Itulah Warisan yang tidak berkah. Warisan yang menjadi musibah.

Ada 10 bentuk pembagian warisan muslim yang tidak sesuai dengan aturan Islam. Dua di antaranya sangat banyak dilakukan oleh masyarakat kita. Yakni tidak segera membagi dan menyamakan hak anak laki laki dengan anak perempuan.

Dengan dalih keadilan mereka membagi harta waris sama rata antara anak laki laki dan anak perempuan. Ini banyak kita jumpai di sekitar kita.

Perilaku seperti ini secara tidak langsung mengatakan aturan Allah tidak adil. Dan itu telah merusak akidah. Merusak keislamannya. Padahal kalau ditanya di dalam ujian, hukum siapa yang paling adil, mereka pasti menjawab hukum Allah. Pengetahuannya tidak selaras dengan perbuatannya.

Bagaimana kalau seandainya diantara ahli waris itu kondisi kesejahteraannya tidak sama. Ada yang masuk kaum sangat sejahtera tetapi ada juga yang masuk kaum pra sejahtera. Dan kebetulan yang masuk pra sejahtera itu adalah ahli waris anak perempuan. Kasihan; dia mendapat warisan lebih sedikit dibanding saudara laki lakinya. Hanya separo dari saudara laki lakinya.

Ada solusinya, kata Madam Ani. Solusi yang membawa keberkahan. Pertama, bagilah harta waris itu sesuai aturan Islam terlebih dahulu. Anak laki laki mendapat 2 kali anak perempuan. Kemudian mereka yang sangat sejahtera mengeluarkan sedekahnya kepada yang pra sejahtera. Disitu kemudian timbul keberkahan bersedekah. Disamping keberkahan Waris.

Yang juga banyak terjadi adalah harta waris baru dibagi setelah kedua pewaris meninggal semua. Padahal di dalam aturan Islam jelas disebutkan bahwa duda atau janda dari si mayit termasuk dalam daftar ahli waris. Berhak mendapat bagian warisan. Bahkan termasuk ahli waris utama. Yakni ahli waris yang mendapatkan bagian terlebih dahulu, sebelum sisanya dibagikan kepada ahli waris lainnya.

Di sini pentingnya memisahkan dalam catatan antara harta sang ibu dan harta sang ayah. Harta warisan tidak boleh dibagi sebagai warisan selama pemiliknya masih hidup. Ini prinsip waris.

Misalnya yang meninggal sang ayah. Hanya harta ayah saja yang boleh diwariskan. Harta sang ibu tetap utuh; tidak boleh dibagi sebagai harta warisan.

Sang Ibu kini mempunyai harta awal – miliknya sendiri; ditambah dengan bagian warisan dari harta sang suami. Dengan demikian sang Ibu masih mempunyai harta untuk melanjutkan kehidupannya dengan penuh kehormatan.

Itulah indahnya aturan Islam. Bagi yang memahami. Seperti panjenengan.

Sby, 30 Nopember 2025

Noor Aidlon