16 September 2026

UJIAN

 


Oleh : Noor Aidlon

ZAMAN dahulu, orang mengeluh itu  memalukan. Kalau sudah tidak bisa ditahan lagi beban di dalam hatinya, dia baru akan mencari orang yang bisa dipercaya untuk dijadikan keranjang sampah. Tempat menumpahkan keluhannya. Sepertinya generasi pada saat  itu, generasi yang memang sedikit mengeluh.

Zaman sekarang beda lagi. Ada masalah sedikit, ambil HP nulis semua keluhannya di media sosial. Terkadang dengan gaya bahasa yang hiperbola. Yang di lebih lebihkan. Generasi sekarang termasuk generasi yang sedikit sedikit mengeluh.

Kalau dilihat masalah yang dihadapi, ya sama saja. Sejak dahulu kala, namanya orang hidup pasti ada masalah. Mulai masalah dengan diri sendiri, keluarga, teman sampai pekerjaan. Ada semua. Kinipun sama.

Orang bijak dulu menasehatkan begini. Kamu tidak akan bisa lari dari masalah. Masalah pasti mengejarmu kemanapun kamu lari. Hanya ada satu pilihan bagimu : Hadapi. Pelajari masalahnya dan cari solusinya. Bak soal ujian yang harus dicari jawabannya.

Wajar saja kalau orang merasa takut menghadapi masalah. Rasa takut ada di fikiran. Singkirkan dengan berfikir logis.

Bila kau takut menghadapi masalah, ingatlah backinganmu itu Tuhan. Tuhan yang Maha Besar. Bikinlah dialog imajiner seperti ini. Katakan kepada masalah yang besar sekalipun. Aku tidak takut kepadamu karena aku punya Allah Yg Maha Besar. Demikian yang tertulis di dalam buku La Tahzan.

Allah itu penuh rahmat. Tidaklah mungkin dzat yang penuh Rahmat membuat susah umat Nya. Kalau ada umatnya yang mengalami kesulitan dan kesempitan pastilah ada maksud dibaliknya.

Seperti orang tua yang lagi mendidik anaknya. Tidak semua keinginan anaknya dipenuhi. Sering sang anak diminta menahan diri. Sering juga diberikan beban lebih berat agar menjadi kuat. Kuat menanggung beban dan tanggung jawab yang lebih besar. Kelak.

Itulah ujian bagi sang anak. Apakah dia sabar dan tahan uji atau melarikan diri.

Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, "Kami telah beriman," dan mereka tidak diuji?
Dan sungguh, Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka Allah pasti mengetahui orang-orang yang benar dan pasti mengetahui orang-orang yang dusta ( Qs Al Ankabut 2 - 3 )

Dr. Lang terkesima membaca ayat ini. Jadi kesulitan dan kesempitan itu cara Tuhan menguji dan mendidik umat Nya, pikirnya.

Itulah jawaban yang memuaskan hatinya dari pertanyaan filosofis : Kalau Tuhan penuh kasih mengapa masih ada orang yang kesulitan. Masih ada orang yang terbelit masalah.

Pertanyaan yang dahulu membuatnya keluar dari agama sebelumnya - yang tidak bisa menjawab dengan baik. Pun dalam agama agama lain yang dipelajarinya kemudian. Hingga ia memilih menjadi atheis selama 10 tahun.

Qur'an telah membimbingnya ke jalan yang benar. Di Qur'an dia menemukan jawaban jawaban dari setiap pertanyaan yang muncul dalam fikirannya.

Seolah olah Kitab ini yang membaca saya, bukan saya yang membaca Kitab ini - DR Jefrey Lang.

Sby, 15 September 2026
NA

25 Mei 2026

NYAWANYA LALU ANAKNYA

 Ini Adalah Alasan Kenapa Naik Tangga itu Menyehatkan | Yesdok.com

 Oleh Noor Aidlon

N

abi Ibrahim, sebelum diuji dengan mengorbankan nyawa anaknya, terlebih dahulu diuji dengan mengorbankan nyawanya sendiri. 

Kita tahu, saat itu raja Namrud memberikan 2 pilihan sulit kepada Nabi Ibrahim, yakni meninggalkan agamanya atau kehilangan nyawanya. Nabi Ibrahim memilih tidak meninggalkan agamanya. Memilih ngeboti agamanya dibanding dengan nyawanya. Walhasil Raja Namrud memerintahkan pasukannya untuk menangkapnya. Lalu membakarnya.

Kita juga tahu - bagi yang sudah mempunyai anak - nyawa anak jauh lebih berharga dari nyawanya sendiri. Ujian mengorbankan nyawa anak jauh lebih berat daripada mengorbankan dirinya sendiri.

Sebelum diuji dengan mengorbankan nyawanya, Nabi Ibrahim pun terlebih dahulu diuji dengan cemoohan dan perlawanan kaumnya. Mereka menganggap Nabi Ibrahim telah nyalahi adat, merusak adat istiadat yang telah dibangun nenek moyangnya. Mereka menganggap Nabi Ibrahim telah gila.

Ini pelajaran dari Allah.  Bahwa ujian yang diberikan haruslah disesuaikan dengan kemampuannya. Bobot ujian harus disesuaikan dengan kelasnya.

Allah tidak membebani seseorang, kecuali menurut kesanggupannya ( Qs Al Baqarah 286 ).

Mula mula beliau diuji berselisih dengan ayahnya. Kemampuannya meningkat, lalu diuji dengan yang lebih berat : perlawanan kaumnya. Keimanannya lebih kokoh, diuji dengan yang lebih berat lagi : mengorbankan nyawanya. Dan terakhir diuji dengan mengorbankan nyawa anaknya. Semua ujian dilaluinya dengan sempurna. Itulah Nabi yang dikenal sebagai bapaknya para nabi.

Begitulah. Ujian seharusnya dimulai dari yang kecil. Demikian juga dengan ujian yang berupa harta. 

(yaitu) orang-orang yang selalu berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit ( QS Ali Imran 134 ).

Pada waktu sempitpun, diminta berinfak. Apa maknanya ? 

Bisa dibayangkan. Bagaimana kalau seseorang baru mulai berinfak ketika sudah kaya.  Misalnya ketika jumlah hartanya sdh mencapai Rp 500 juta, kemudian diminta berinfak Rp 50 juta - 10% nya, pasti akan terasa sangat berat. Karena belum terlatih.

Bandingkan dengan orang yang mempunyai uang Rp 100.000, diminta Rp 20.000 pun akan dikasihkan. Padahal itu 20% nya !

Beberapa pekan yang lalu, teman saya cerita : hari itu uang di dompetnya tinggal Rp 5.000. Tabungannyapun bersaldo minimum, artinya sudah tidak bisa diambil lagi.

Bagaimana ceritanya Pak, tanya saya. Hari sebelumnya uang yang ada di dompet masih Rp 500.000 lebih sedikit. Lha koq panitia pengajian bilang kalau dana konsumsi kurang Rp 500.000. Bisakah kekurangannya ditutup, pinta panitia. 

Saya diam sebentar, lanjutnya. Saya ingat : bensin motor barusan diisi penuh, cukup untuk perjalanan ke kantor seminggu. Uang kebutuhan keluarga sudah aman ditangani istri.  Gajian tinggal 3 hari lagi. Bismillah, akhirnya saya kasihkan uang di dompet saya. Yang tertinggal hanya recehannya. Ya ini Pak, sambil menunjukkan isi dompetnya. Panjenengan Hebat Pak. Saya hanya bisa komentar begitu.

Saya yakin, teman saya ini sudah belajar berinfak sejak lama, sejak masih kecil. Makanya ringan saja mengeluarkan uang infak.

Sementara dalam suatu forum saya pernah mengajukan pertanyaan kepada peserta. Seandainya, uang gajianmu sebulan, misalnya besarnya Rp 25 juta. Diminta semua untuk infak.  Sedangkan saldo tabunganmu masih Rp 150 juta, 6 kali gaji. Kira kira kamu berikan ? Tidak ada yang menjawab.

Atau, ketika dihitung – zakat yang harus kamu bayar besarnya Rp 400 juta. Seharga mobil baru, kualitas cukup baik. Apakah kamu pilih bayar zakat atau pilih beli mobil baru.

Di sisi lain, ada satu cerita nenek tua, janda harus menabung setahun penuh agar bisa membeli kambing untuk qurban. Dia lebih suka menyisihkan uangnya untuk menabung daripada mengganti sandal yang sudah usang.

Itulah keimanan. Ditanamkan sejak kecil. Dipupuk selama masih diberi hidup. Dan disiangi sampai dipanggil mati.

Kalau tidak, dia akan dimakan hama, layu, kemudian mati sendiri.

Sby, 24 Mei 2026
NA