Oleh : Noor Aidlon
ZAMAN dahulu, orang mengeluh itu memalukan. Kalau sudah tidak bisa ditahan lagi beban di dalam hatinya, dia baru akan mencari orang yang bisa dipercaya untuk dijadikan keranjang sampah. Tempat menumpahkan keluhannya. Sepertinya generasi pada saat itu, generasi yang memang sedikit mengeluh.
Zaman sekarang beda lagi. Ada masalah sedikit, ambil HP nulis semua keluhannya di media sosial. Terkadang dengan gaya bahasa yang hiperbola. Yang di lebih lebihkan. Generasi sekarang termasuk generasi yang sedikit sedikit mengeluh.
Kalau dilihat masalah yang dihadapi, ya sama saja. Sejak dahulu kala, namanya orang hidup pasti ada masalah. Mulai masalah dengan diri sendiri, keluarga, teman sampai pekerjaan. Ada semua. Kinipun sama.
Orang bijak dulu menasehatkan begini. Kamu tidak akan bisa lari dari masalah. Masalah pasti mengejarmu kemanapun kamu lari. Hanya ada satu pilihan bagimu : Hadapi. Pelajari masalahnya dan cari solusinya. Bak soal ujian yang harus dicari jawabannya.
Wajar saja kalau orang merasa takut menghadapi masalah. Rasa takut ada di fikiran. Singkirkan dengan berfikir logis.
Bila kau takut menghadapi masalah, ingatlah backinganmu itu Tuhan. Tuhan yang Maha Besar. Bikinlah dialog imajiner seperti ini. Katakan kepada masalah yang besar sekalipun. Aku tidak takut kepadamu karena aku punya Allah Yg Maha Besar. Demikian yang tertulis di dalam buku La Tahzan.
Allah itu penuh rahmat. Tidaklah mungkin dzat yang penuh Rahmat membuat susah umat Nya. Kalau ada umatnya yang mengalami kesulitan dan kesempitan pastilah ada maksud dibaliknya.
Seperti orang tua yang lagi mendidik anaknya. Tidak semua keinginan anaknya dipenuhi. Sering sang anak diminta menahan diri. Sering juga diberikan beban lebih berat agar menjadi kuat. Kuat menanggung beban dan tanggung jawab yang lebih besar. Kelak.
Itulah ujian bagi sang anak. Apakah dia sabar dan tahan uji atau melarikan diri.
Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, "Kami telah beriman," dan mereka tidak diuji?
Dan sungguh, Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka Allah pasti mengetahui orang-orang yang benar dan pasti mengetahui orang-orang yang dusta ( Qs Al Ankabut 2 - 3 )
Dr. Lang terkesima membaca ayat ini. Jadi kesulitan dan kesempitan itu cara Tuhan menguji dan mendidik umat Nya, pikirnya.
Itulah jawaban yang memuaskan hatinya dari pertanyaan filosofis : Kalau Tuhan penuh kasih mengapa masih ada orang yang kesulitan. Masih ada orang yang terbelit masalah.
Pertanyaan yang dahulu membuatnya keluar dari agama sebelumnya - yang tidak bisa menjawab dengan baik. Pun dalam agama agama lain yang dipelajarinya kemudian. Hingga ia memilih menjadi atheis selama 10 tahun.
Qur'an telah membimbingnya ke jalan yang benar. Di Qur'an dia menemukan jawaban jawaban dari setiap pertanyaan yang muncul dalam fikirannya.
Seolah olah Kitab ini yang membaca saya, bukan saya yang membaca Kitab ini - DR Jefrey Lang.
Sby, 15 September 2026
NA