Oleh Noor Aidlon
|
M |
alam itu, dilantai 8 kantor Karawaci
- pukul 9 - pada bulan Januari - 15 tahun yang lalu, boss kami : Shareen marah
besar. Beberapa kali, kata kata makian keluar dari lesannya. Kemarahan dan
makian itu ditujukan kepada saya khususnya dan team saya ikut kecipratan
getahnya.
Malam itu saya didampingi Mas Febri, Mbak Rina dan mbak Titik. Awalnya
kami rapat dengan team Audit dari PWc.
Selama presentasi, Shareen memberikan apresiasi dan memuji team kami. Dari 100%
temuan team audit, 90% bisa kami selesaikan dalam waktu 1 bulan.
Habis rapat kami menjalankan sholat Maghrib dan makan malam. Kamudian Shareen
mengajak rapat lagi. Membahas 10% temuan audit yang belum diselesaikan.
Dalam rapat itu, dia bertanya : kapan 10% nya bisa diselesaikan. Mei, jaawab saya.
Mengapa lama ? You finished 90 % in one month and you need 4 months to
finish the rest 10%. It is not acceptable. Tambahnya dengan suara mulai
meninggi.
Saya jelaskan 10% itu sisa yang paling sulit, tidak bisa dibandingkan dengan
90% yang mudah. It is not comparable.
Dia minta kami menyelesaikan dalam waktu 1 bulan. Saya bilang tidak bisa. Dia
mulai marah. Are you crazy or what ? Teriaknya. Saya tetap tidak mau turun dari
Mei. Dia tambah marah. Mulai keluar kata kata makian.
Mas Febry yang duduk di sebelah mulai menginjak kaki saya dengan mata berkedip
kasih kode untuk mengalah.
Saya kenal Shareen. Dia selalu memburu apa yang dijanjikan. Makanya saya tetap
tidak bergeming dari Mei. Dia tetap marah. Keluar kata kata ini : Kalau tidak
sanggup menyelesaikan pada akhir Februari, it is better for you to find new
job. Saya diminta cari kerjaan lain.
Mas Febry senggol senggol saya. Saya lihat Mbak Rina dan Mbak Titik. Mereka
kasih kode : Iyakan saja dulu.
Ruang rapat yang luas terasa sempit. Kami hening sesaat. Tinggal detik detik jam
dinding yang terdengar jelas. Saya tengok jam itu. Hampir jam 10. Sudah cukup
larut malam.
Saya ingat pelajaran negosiasi. Keluarlah kalimat saya : Beri kami waktu
untuk menghitung ulang. Besuk kami akan berikan konfirmasinya.
Rapat ditutup. Kami berbenah untuk pulang. Sejenak kemudian sambil
berdiri, dengan ringan dan tersenyum dia bilang see you tomorrow. Seakan tidak
pernah terjadi apa apa. Sementara kami masih merasa jengkel dan sakit hati.
Ketika kami keluar dari lift yang ada di lobby, dia memanggil dan bertanya :
Ada mobil. Kalau tidak ada, bareng aku saja.
Mobil dia dan mobil saya datang hampir bersamaan. Dia masuk mobil sambil
melambaikan tangan dan tersenyum. Saya masuk mobil sambil menggerutu penuh
kejengkelan.
Selama dalam perjalanan dari Karawachi ke Tebet saya merenung. Dia yang ngomel
ngomel saja sudah lupa apa yang diomelkan, mengapa saya tetap memikirkannya.
Tetap sakit hati. Lalu siapa yang salah ini, kata hati saya.
Pagi harinya saya datang ke ruangannya. Dia menyapa dengan baik. Mengajak
ngobrol yang ringan ringan.
Sesaat kemudian saya bicara tentang target waktu yang diperdebatkan semalam.
Saya jelaskan pelan pelan, saya tunjukkan datanya. 10% yang tersisa itu
tidak sepenuhnya under control kami. Hampir semua melibatkan fihak lain. Fihak
ke tiga. Itulah sebabnya, mengapa kami menjanjikan Mei.
Got it Pak. Katanya cepat. Respond yang diluar dugaan saya. Berbalik 180° dari
respond malam sebelumnya. Kemudian dia menambahkan do your best. Saya percaya
kepada teammu Pak.
Ini persis dengan temuan Jhon Gottman, 69% orang merasa tersakiti, terdzalimi
karena miskomunikasi dan perbedaan kepribadian. Tidak ada niatan dan
kesengajaan untuk menyakiti.
Shareen, orang Fiji dan kami orang Indonesia, suku Jawa lagi - yang sangat
perasa. Perbedaan kepribadian dan budaya menyebabkan salah dalam menterjemahkan
ucapan dan nada bicara.
Belum lagi, keterbatasan bahasa Inggris menyebabkan kami kurang tepat dalam
memilih kata kata. Sehingga dia salah mengerti maksud kami yang sebenarnya.
Shareen tidak sadar kalau kata katanya menyakiti kami. Bahkan dia tidak tahu
itu. Perbedaan latar belakang budaya, kepribadian adalah penyebabnya. Makanya
dia bersikap biasa biasa saja. Seolah olah tidak terjadi apa apa.
Seandainya kami tidak memaafkan ( yang kami anggap kesalahan ) Shareen,
tentu kami tidak bisa move on. Tentu kami akan terbelenggu dalam dendam yang
merusak ketenangan hati. Merusak hubungan antarpersonal kami.
Itulah mengapa di dalam Al Quran banyak ayat yang menganjurkan memberikan maaf
atau memaafkan orang lain.
Memaafkan itu lebih bagimu, kata salah satu ayat.
Karena pada hakekatnya memaafkan itu untuk kepentingan diri kita sendiri. Bukan
orang lain.
Bukan pula untuk Shareen.
Sby, 24 April 2026
NA.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar