Oleh Noor Aidlon
|
N |
abi Ibrahim,
sebelum diuji dengan mengorbankan nyawa anaknya, terlebih dahulu diuji dengan
mengorbankan nyawanya sendiri.
Kita tahu, saat itu raja Namrud memberikan 2 pilihan sulit kepada Nabi Ibrahim,
yakni meninggalkan agamanya atau kehilangan nyawanya. Nabi Ibrahim memilih
tidak meninggalkan agamanya. Memilih ngeboti agamanya dibanding dengan
nyawanya. Walhasil Raja Namrud
memerintahkan pasukannya untuk menangkapnya. Lalu membakarnya.
Kita juga tahu - bagi yang sudah mempunyai anak - nyawa anak jauh lebih
berharga dari nyawanya sendiri. Ujian mengorbankan nyawa anak jauh lebih berat
daripada mengorbankan dirinya sendiri.
Sebelum diuji dengan mengorbankan nyawanya, Nabi Ibrahim pun terlebih dahulu diuji
dengan cemoohan dan perlawanan kaumnya. Mereka menganggap Nabi Ibrahim telah nyalahi
adat, merusak adat istiadat yang telah dibangun nenek moyangnya. Mereka
menganggap Nabi Ibrahim telah gila.
Ini pelajaran dari Allah. Bahwa ujian yang diberikan haruslah disesuaikan
dengan kemampuannya. Bobot ujian harus disesuaikan dengan kelasnya.
Allah tidak membebani seseorang, kecuali menurut kesanggupannya ( Qs Al Baqarah
286 ).
Mula mula beliau diuji berselisih dengan ayahnya. Kemampuannya meningkat, lalu
diuji dengan yang lebih berat : perlawanan kaumnya. Keimanannya lebih kokoh,
diuji dengan yang lebih berat lagi : mengorbankan nyawanya. Dan terakhir diuji
dengan mengorbankan nyawa anaknya. Semua ujian dilaluinya dengan sempurna.
Itulah Nabi yang dikenal sebagai bapaknya para nabi.
Begitulah. Ujian seharusnya dimulai dari yang kecil. Demikian juga dengan ujian
yang berupa harta.
(yaitu) orang-orang yang selalu berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit
( QS Ali Imran 134 ).
Pada waktu sempitpun, diminta berinfak. Apa maknanya ?
Bisa dibayangkan. Bagaimana kalau seseorang baru mulai berinfak ketika sudah
kaya. Misalnya ketika jumlah hartanya sdh mencapai Rp 500 juta, kemudian
diminta berinfak Rp 50 juta - 10% nya, pasti akan terasa sangat
berat. Karena belum terlatih.
Bandingkan dengan orang yang mempunyai uang Rp 100.000, diminta Rp 20.000 pun
akan dikasihkan. Padahal itu 20% nya !
Beberapa pekan yang lalu, teman saya cerita : hari itu uang di dompetnya
tinggal Rp 5.000. Tabungannyapun bersaldo minimum, artinya sudah tidak bisa
diambil lagi.
Bagaimana ceritanya Pak, tanya saya. Hari sebelumnya uang yang ada di dompet
masih Rp 500.000 lebih sedikit. Lha koq panitia pengajian bilang kalau dana
konsumsi kurang Rp 500.000. Bisakah kekurangannya ditutup, pinta panitia.
Saya diam sebentar, lanjutnya. Saya ingat : bensin motor barusan diisi
penuh, cukup untuk perjalanan ke kantor seminggu. Uang kebutuhan keluarga sudah
aman ditangani istri. Gajian tinggal 3 hari lagi. Bismillah, akhirnya
saya kasihkan uang di dompet saya. Yang tertinggal hanya recehannya. Ya ini
Pak, sambil menunjukkan isi dompetnya. Panjenengan Hebat Pak. Saya hanya bisa
komentar begitu.
Saya yakin, teman saya ini sudah belajar berinfak sejak lama, sejak masih
kecil. Makanya ringan saja mengeluarkan uang infak.
Sementara dalam suatu forum saya pernah mengajukan pertanyaan kepada peserta.
Seandainya, uang gajianmu sebulan, misalnya besarnya Rp 25 juta. Diminta semua
untuk infak. Sedangkan saldo tabunganmu masih Rp 150 juta, 6 kali gaji. Kira
kira kamu berikan ? Tidak ada yang menjawab.
Atau, ketika dihitung – zakat yang harus kamu bayar besarnya Rp 400 juta. Seharga mobil baru, kualitas cukup baik. Apakah kamu pilih bayar zakat atau pilih beli mobil baru.
Di
sisi lain, ada satu cerita nenek tua, janda harus menabung setahun penuh agar
bisa membeli kambing untuk qurban. Dia lebih suka menyisihkan uangnya untuk
menabung daripada mengganti sandal yang sudah usang.
Itulah keimanan. Ditanamkan sejak kecil. Dipupuk selama masih diberi hidup. Dan
disiangi sampai dipanggil mati.
Kalau tidak, dia akan dimakan hama, layu, kemudian mati sendiri.
Sby, 24 Mei 2026
NA
Tidak ada komentar:
Posting Komentar