Oleh Noor Aidlon
... Orang yang menahan amarahnya ( QS Imran 134 ).
|
P |
agi itu, di dalam masjid seakan
dipenuhi suara ribuan lebah yang mendengung. Dengungan lirih itu keluar dari
lesan lesan santri yang sedang mengaji. Suara pelan keluar dari bibir ratusan
santri dengan nada yang sama. Melantunkan ayat ayat suci. Membuat hati siapapun
yg mendengarnya menjadi adem. Tenteram.
Sementara di ruang sebelah, Pak Kyai duduk dengan salah satu santrinya. Santri
baru yang terkenal paling baperan, mudah tersinggung. Suka ngambek. Pun
suka marah. Terganggu sedikit - ngambeknya minta ampun.
Ruangan itu terasa hening. Di atas meja depan santri telah disiapkan segelas
air minum. Pak Kyai mempersilakan santri meminumnya. Diminumlah beberapa
teguk. Bagaimana rasanya, tanya Pak Kyai. Seger Pak. Terima kasih.
Pak Kyai kemudian mengambil 3 sendok garam. Diadukanya ke dalam air yang ada di
gelas. Sekarang kau cicipi lagi. Asin Pak. Mengapa bisa begitu, tanya Pak Kyai.
Karena tadi dicampur 3 sendok garam. Ehm, gitu ya, kata Pak Kyai sambil
tersenyum.
Sekarang ikut Bapak, ajak Pak Kyai. Ternyata santri itu di ajak jalan ke kolam.
Kolam milik pesantren. Mereka duduk di pinggir kolam. Sejenak
kemudian Pak Kyai menyuruh santri mengambil air kolam dengan tangan dan
mencicipinya. Segar, katanya setelah memasukkan air ke dalam mulutnya.
Lalu Pak Kyai mengambil 9 sendok garam dimasukkannya ke dalam kolom.
Sambil mengaduk garam ke dalam air kolam yang bening itu, Pak Kyai minta
santrinya mencicipinya kembali. Masih seger, tidak terasa asin sama sekali Pak.
Bukankah Bapak tadi memasukkan 9 sendok garam ke dalamnya ? Ya, kata santrinya.
Tapi masih seger, tawar tanpa terasa asin sama sekali, tambahnya.
Ditepuknya pundak sang santri, sambil berujar. Begitu pula dengan manusia
nak. Kalau hatinya seluas kolam ini, sedalam kolam ini, dia tidak akan mudah
terganggu, tidak akan mudah terpengaruh dengan hal hal kecil. Tapi kalau
hatinya hanya seluas gelas, gangguan sekecil apapun akan mempengaruhi suasana
hatinya.
Bapak minta, mulai sekarang lapangkanlah hatimu dan jernihkan fikirananmu.
Niscaya kau akan selalu merasakan kesejukan hati. Kesejukan hati akan membawa
ketenangan jiwa. Jiwamu akan semakin kokoh.
Santri itu menundukkan kepala. Mencerna kata demi kata yang diucapkan Pak Kyai.
Hening, sepi.
Pak Kyai berdiri dan jalan pulang ke pondok. Sang santri masih duduk termenung
di pinggir kolam. Merenungkan pelajaran yang diberikan Pak Kyai.
Air matanya mulai berlinang, teringat kedua orang tuanya. Orang yang selalu
menasihati agar bersabar, tapi tidak pernah diperhatikannya. Tiba tiba rasa
rindu timbul dalam dirinya. Ingin segera pulang memeluk orang tuanya. Meminta
ampunannya
Pagi itu dia mendapati pelajaran yang sangat berharga. Nasehat yang diberikan
tanpa kemarahan. Nasehat yang menghunjam jauh ke dalam hati tanpa menyakiti.
Seperti ikan di kolam itu. Berlompatan ke atas air tanpa membuat keruh airnya.
Air sekolam tidak akan tercemari dengan segenggam garam. Hati yang lapang tidak
akan mudah tersulut amarah. Itulah manusia spec surga. Seperti panjenengan.
#Sby, 17 Mei 2026
#NA
Tidak ada komentar:
Posting Komentar