Oleh Noor Aidlon
|
S |
elalu menarik mendengarkan cerita
titik balik - turning point yang dialami seseorang. Yakni satu kejadian yang mampu
mengubah perjalanan hidupnya. Perjalanan hidup yang berubah 180° dari
perjalanan hidup sebelumnya.
Beberapa minggu yang lalu, ketika saya menjenguk Pak Darman di RSUA Surabaya,
saya bertemu putri pertamanya. Dia mengaku yunior saya di sebuah bank swasta
terbaik pada zamannya. Dia masuk melalui program pendidikan pada tahun 2003,
jauh dibawah angkatan saya. Tidak sekedar jauh. Tapi jauh sekali.
Saat ini dia aktif menjadi trainer, menjadi ustadzah di sebuah lembaga
pendidikan. Spesialisasinya adalah parenting dan Gen Z.
Saat masih bekerja di bank, dia sudah menduduki jabatan tertentu. Suaminya juga
seorang profesional. Yang juga sangat sibuk.
Dilema mulai muncul ketika dia sudah mempunyai 2 orang anak. Apakah dia tetap
mengejar karir ataukah focus mendidik ke dua anaknya.
Dari diskusi dengan suaminya, akhirnya diputuskan dia tetap berkarir, sedangkan
untuk menjaga kedua anaknya, dia pekerjakan 2 orang baby sister. Masalah
selesai. Untuk sementara waktu.
Suatu hari ketika dia berada di kantor, anaknya jatuh pingsan. Dia buru buru
pulang sambil menangis dan berbisik dalam hatinya: Saya tidak akan bisa
memaafkan diriku bila anaknya tidak bisa diselamatkan.
Saat itulah hatinya mantap untuk
berhenti mengejar karir. Beberapa bulan dia focus pada keluarganya. Sampai suatu
saat ada temannya yang menawarkan untuk menjadi trainer yang tidak mengikat. Yang
bisa maengabdikan ilmunya untuk mendidik masyarakat.
Cerita yang hampir sama dialami oleh sahabat baik saya. Seorang wanita juga.
Bertahun tahun dia ancang ancang mau keluar dari bank. Beberapa kali dia minta
pertimbangan saya. Selalu saya bilang diskusikan dengan suamimu. Suaminya
merestuinya. Namun kebimbangan masih menguasainya.
Sampai suatu saat. Di hari Jumat, ketika karyawan laki laki muslim pergi sholat
jumat. Ketika banyak karyawan lainnya pada makan siang. Dia sendirian di
kantor. Dia buka medsos. Ada sebuah foto - 2 orang anak duduk berjejer. Di
caption tertulis : Kasihan anak ini, sendirian menunggu jemputan.
Hatinya meradang melihat foto itu. Itu anak anak ku, teriaknya dalam hati. Saat itulah hatinya mantap untuk resign.
Dan kini dia menjadi seorang trainer
yang sangat laris. Pendapatan dari mengajarnya berlipat lipat dibanding dari
gajinya dulu. Kini hatinya lebih tenang. Hidupnya lebih berkah. Tampaknya.
Beberapa minggu yang lalu, di Masjid Al Mu'thi Surabaya, kajian subuh diisi
oleh Ust Ir. Misbachul Huda, MBA. Pak ustadz membawakan materi berjudul self
leadership. Salah satu slide membahas mengenai titik balik.
Saat diskusi, seorang jamaah yang dokter spesialis menceritakan pengalaman pribadinya.
Bagaimana dulu, teman teman
sejawatnya di FK Unair selalu mengatakan begini : Sampai kapan kamu begini
terus. Duniawi saja yang kau kejar.
Peringatan seperti itu tidak hanya sekali dua kali disampaikan teman sejawatnya.
Namun sering sekali. Bahkan hampir setiap bertemu. Namun tidak pernah digubrisnya. Tidak pernah
dihiraukannya.
Sampai suatu waktu dia mampir sholat Ashar di masjid ini. Sangat jarang dia
mampir ke masjid yang selalu dilewatinya ini. Entah kenapa dia mampir sore itu.
Selepas sholat dia melihat 2 orang pedagang
- bakso dan roti keliling. Dia hampiri kedua pedagang itu. Dia lihat masih
banyak bakso di rombongnya. Pun masih banyak roti di box yang ditaruh di atas
sadel belakang sepeda motornya.
Habis dari masjid ini langsung pulang Pak ya, tanyanya kepada kedua pedagang
itu. Dia mengira kedua pedagang itu sudah mau pulang. Mboten Pak. Tidak
Pak, ini masih keliling lagi. Ada panggilan sholat, kami sholat Pak. Karena yang
memanggil yang kasih rezeki masak mau diabaikan.
Dia sangat kaget dengan jawaban itu. Kalimat yang tidak pernah ada dalam
fikirannya. Panggilan dari yang kasih rezeki. Dia renungkan kalimat itu. Berkali
kali.
Selama ini dia mengerjakan sholat pada sisa waktunya. Sisa waktu dalam mengejar rezeki. Bukan menyediakan dan mengutamakan waktu untuk sholat.
Dia lebih mengutamakan panggilan pasien daripada panggilan yang membuat pasiennya datang. Sejak saat itu dia sholat pada awal waktu, berjamaah di masjid. Dia rajin belajar agama. Dia belajar hukum Allah - sang pencipta bumi yang ditempatinya.
Titik balik – titik yang membalikkan jalan hidup seseorang. Pemicunya bisa bermacam macam. Dan kebanyakan datang dengan “tidak sengaja”. Dalam bahasa agama, itulah hidayah. Hidayah memang harus dicari. Masalah dapat tidaknya, itu tergantung yang memberi.
Kds, 26 Desember 2025