30 Januari 2021

INI NYATA. BUKAN ILUSI

 


K

alau melihat gelar akademisnya; dia orang yang sangat berpendidikan. Paling tidak, dia lulusan pasca sarjana. Entah dari mana, saya tidak tahu. Dan memang tidak perlu tahu.

Kalau melihat jabatannya, dia orang yang sangat penting. Sangat terhormat. Anggota DPR RI. Saya tidak tahu dari Dapil mana. Yang pasti mempunyai jaringan sosial yang sangatlah luas.  Tidak saja sangat luas. Tapi juga sangat high level. Kalau tidak, mana mungkin dia bisa terpilih sebagai anggota DPR RI. Teman saya menyebutnya – Dia termasuk orang yang disegani.

Saya memang belum pernah bertemu langsung dengannya. Namun sudah beberapa kali melakukan pembicaraan  telpon.  Urusan pekerjaan.

Dari nada bicara, dia orang yang sangat tegas dan pintar. Saya menilai dia punya kemauan yang sangat besar. Bahkan cenderung dominan. Sifat yang biasanya dimiliki oleh pengusaha sukses. Dan dia termasuk salah satu diantaranya.

Minggu lalu saya melakukan pembicaraan telpon lagi dengannya. Cukup lama. Lebih dari setengah jam. Seperti biasa. Dia  yang banyak cerita dan mendominasi pembicaraan. Hanya kali ini, isi pembicaraannya beda dengan pembicaraan sebelumnya. Saat itu dia banyak bicara masalah Covid 19. Yang selama ini belum pernah disinggungnya.

Saya betul betul takut sekarang Pak. Tidak berani kluyuran lagi. Dah, WFH ( Work From Home ) saja. Lho, memangnya kemarin  tidak takut ? tanya saya agak heran.

Dia mengaku. Selama ini tidak begitu takut. Tidak begitu yakin dengan Covid. Dia masih pergi kesana kemari. Masih rapat kesana kemari. Ngurusi partai. Ngurusi businessnya. Berangkat pagi pulang malam. Bawah sadarnya masih menganggap Covid itu belum nyata. Covid masih  jauh.

Kini. Beberapa anggota keluarga besarnya terkena. Terpapar Covid. Yang ketika mencari kamar di Rumah Sakit begitu sulitnya. Untung dia pejabat. Banyak koneksi. Menteri dia telpon. Untuk membantu mencarikan kamar di Rumah Sakit.

Kini. Dia mengatakan dengan sangat yakin. Covid itu memang nyata. Bukan ilusi. Covid sudah sangat dekat dengannya. Dengan keluarganya.  Bahkan sudah menghampiri anggota keluarganya. Sudah ada diantara keluarganya.

Saya membayangkan. Kalau level dia saja kemarin kemarin masih menganggap Covid itu ilusi. Tidak nyata. Bagaimana dengan mereka yang ada di level bawah. Yang jauh dari informasi. Jauh dari ilmu pengetahuan.

Saya tidak berani lagi menilai mereka yang acuh terhadap protocol kesehatan itu orang yang tidak berpendidikan. Orang yang ngeyelan.

Beliau yang sangat well educated. Yang sangat well informed. Bahkan termasuk yang ikut menggodok peraturan dan kebijakan. Itu saja masih menganggap Covid ini belum nyata. Ini barangkali karena tertutupi oleh kemauan kerasnya. Barangkali tertutupi oleh target  besar yang dijanjikannya. Atau terpaksa dijanjikannya.

Memang. Terkadang. Ketika kita terlalu focus mengejar sesuatu. Kita lupa pada resiko. Kita lupa pada sesuatu yang membahayakan. Atau bahkan sudah tidak melihat sesuatu itu membahayakan.  Seperti ini. Berapa  banyak orang jatuh karena terpeleset kerikil kecil. Yang tidak pernah dianggapnya itu.

Saya kemudian berfikir, kayaknya ada yang salah dalam sosialisasi Covid ini. Dalam perilaku para panutan kita itu. 

Kebanyakan masyarakat  tidak membaca peraturan. Kebanyakan mereka tidak mengerti kebijakan. Yang mereka lihat adalah panutannya. Mereka mendengarkan apa yang panutannya omongkan.  Mereka meniru apa yang panutannya lakukan.  

Sesederhana itu bagi mereka. Meniru panutannya.   Namun tidak demikian bagi sang panutan. Yang dituntut menjadi suri tauladan.

Apakah sampeyan termasuk panutan itu ?

#NA

#KSB290121

 

 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar