17 Agustus 2022

KETAATAN PENUH

 

Jual Domba Qurban Betina Sesuai Syariah dan Amanah di Seller Mutiara Hijrah  Aqiqah - Kab. Bogor, Jawa Barat | Blibli

S

ebentar lagi  memasuki bulan Dzulhijah. Bulan Qurban. Bulan yang didalamnya ada perayaan Idul Adha. Yang umat Islam disyariatkan untuk menyembelih hewan Qurban. Syariat ini diturunkan dari kisah Nabi Ibrahim. Beliau diminta Allah untuk mengkorbankan putra kesayangan -  Ismail. Dengan cara dipotong lehernya. Namun pada detik terakhir, Allah menggantikannya dengan seekor domba. Domba yang sangat besar. Inilah bentuk ketaatan Nabi Ibrahim. Pun juga bentuk ketaatan Ismail kecil. Yang kelak juga diangkat menjadi Nabi. Nabi Ismail.

Kita bisa membayangkan betapa beratnya Perintah Allah kepada Nabi Ibrahim.  Seperti yang Anda ketahui. Ismail ini lahir ketika Nabi Ibrahim sudah berumur ratusan tahun.  Selama ratusan tahun jugalah beliau selalu berdoa agar dikarunia anak. Yang akan melanjutkan silsilahnya. Namun anak yang dinanti nantikan itu belum juga datang.  Sampai akhirnya Allah menganugerahi seorang anak melalui rahim Siti Hajar. Anak itu diberi nama Ismail.  Anak yang dinanti nantikan kelahirannyapun harus dikorbankan.

Ketika Allah mengabarkan  akan menganugerahi seorang anak; Nabi Ibrahimpun kaget. Bagaimana bisa ? Nabi Ibrahim dan Siti Hajar sudah sama sama tua.  Secara normal tidak memungkinkan lagi  bisa mempunyai anak. Logikanya manusia. Namun logika itu tidak  berlaku bagi Yang Maha Kuasa. Allah Subhanallahu wa ta’ala.

Ketika Ismail masih kecil. Ketika Nabi Ibrahim lagi senang senangnya mengasu anak itu. Datanglah perintah  dari Allah. Agar Istri dan anak kecilnya itu harus diungsikan ke daerah terpencil. Daerah yang tidak berpenghuni. Daerah yang sangat tandus. Antara dua bukit - bukit Safa dan Marwa. Dari sini kemudian keluar syariat Sa’i itu . Dan dari sini pula sejarah air zam zam itu muncul. Daerah ini kemudian menjadi daerah yang diberkahi. Daerah yang yang sangat ramai. Daerah yang menjadi jujugan umat Muslim sedunia untuk melaksanakan ibadah haji.

Siti Hajar dan Ismail kecilpun ditinggal lagi oleh suaminya. Melanjutkan risalahnya. Sampai beberapa tahun. Sampai akhirnya Perintah itu datang lagi. Untuk mengorbankan anak kesayangannya. Anak yang dinanti nantikan kelahirannya. Anak yang sangat dirindukannya. Berat nian perintah itu. Tapi ketaatannya kepada Tuhannya. Ibrahimpun memenuhi perintah itu.

S

etiap bulan Dzulhijah. Sasi besar – orang Jawa menyebutnya. Saya selalu teringat teman baik saya. Dhany Sintoko. Dhany pernah meminta saya untuk menyembelih sendiri hewan qurban kami. Permintaan itu tidak pernah mampu saya lakukan. Pun sampai sekarang. Saya takut melihat darah. Apalagi yang mengalir. Apalagi dari ujung parang di tangan saya. Ngeri – membayangkannya.  Atau memang saya tidak pernah berniat mencobanya. Tidak sungguh sungguh ingin melakukannya. Entah lah.

Dhany juga takut darah, katanya. Selalu berpaling ketika berada didekat tempat penyembelihan hewan Qurban. Sampai saat itu tiba. Saat Pak Ustadznya memintanya untuk menyembelih sendiri hewan qurbannya. Entah karena dipaksa; entah karena tekat bulatnya. Akhirnya dia lakukan itu. Menyembelih sendiri hewan qurbannya.  Tidak takut, tanya saya. Takutlah mas. Ndredek, katanya. Pisau ditangan saya sampai bergetar. Lalu Pak Ustadz memegang tangan kanan saya - yang memegang pisau itu. Supaya tidak bergetar. Pak Ustadz juga meraih tangan kiri saya dengan tangan kirinya. Diarahkan tangan kiri ke leher kambing. Hewan qurban saya. Saya disuruh memegang leher kambing itu.   Saya masih takut. Rasanya mau menyerah.  Lalu Pak Ustadz  membisikkan kalimat ini ditelinga saya.  Bang, Dulu;  yang dipegang tangan kiri Nabi Ibrahim itu adalah leher putra kesayangannya - Ismail. Tapi karena ketaqwaannya. Beliau taati perintah  itu.  Sekarang yang kamu pegang itu adalah hewan kambing. Kambing biasa. Bukan leher putramu.  Masak kamu takut. Takbir !!! perintahnya.  Dan leher kambing itu terpotong. Oleh tangan saya. Atau tangan Pak Ustads. Saya tidak tahu persis. Tapi yang jelas;  pisau yang berlumuran darah itu berada ditangan saya. Tangan kanan saya. Bukan ditangan Pak Ustadz.

Sejak saat itu; Dhany selalu memotong sendiri hewan qurbannya. Saya tidak bertanya -  apakah sejak saat itu dia tidak takut lagi dengan darah. Atau masih takut. Kecuali darah hewan qurbannya.

Memang kecintaan selalu mampu mengalahkan segalanya. Kecintaan pada manusia saja begitu. Apalagi kepada dzat yang Maha menghidupkan dan Maha mematikan.

Barangkali memang diperlukan Pak Ustadz yang mau memaksa, agar saya bisa seperti Dhany Sintoko  ( NA )

Tidak ada komentar:

Posting Komentar