24 Februari 2025

BUNDLING PARKIR DAN BECAK

 

Cerita-cerita Naik Becak Halaman 2 ...

Oleh Noor Aidlon

P

agi itu di bulan Desember tahun lalu, kami harus ke Pasar Beringharjo – Yogyakarta. Pasar yang sangat legendaris dan menjadi jujukan untuk belanja batik. Ada satu saudara yang belum dibelikan batik. Kata istri saya.

Maka pagi itu kami berangkat ke Pasar Beringharjo yang ada di ujung jalan Malioboro itu. Kami cek di google map. Jalan Malioboro belum di tutup. Berarti bisa pakai mobil sendiri. Google map juga mengarahkan saya memilih jalur melalui kota baru, bukan jalan mangkubumi, seperti kebiasaan saya.

Saya ikuti saja map yang ada di handphone itu. Ternyata benar. Yang dari kota baru bisa masuk ke jalan Malioboro, sedangkan yang dari jalan Mangkubumi diarahkan lurus ke pasar kembang.  

Itulah salah satu gunanya teknologi. Memudahkan urusan kita.  Ini yang hebat bukan teknologinya, tapi orang yang membikin teknologi. Dan yang Lebih hebat lagi adalah yang menciptakan orang yang membikin teknologi.

Pagi itu, Malioboro padat manusia. Pun banyak dokar yang penuh dengan penumpang. Saya perhatikan banyak yang duduk duduk di kursi yang disiapkan di sepanjang trotoar. Cuaca mendung. Udara segar, tidak panas. Banyak juga yang menenteng makanan. Banyak juga yang memakai pakaian tradisional Jawa. Sewaan. Banyak juga yang memakai kaos seragam. Biasanya ini para penikmat reunian.

Kami jalan sangat pelan. Bahkan sedikit sedikit berhenti karena banyaknya orang yang menyeberang jalan. Kami putuskan untuk parkir di gang ke dua sebelum Pasar Beringhargjo. Sedikit agak jauh, memang. Tapi tanda masih ada tempat parkir - masih terpasang.  Paling tidak ada jaminan kebagian tempat parkir. Daripada yang dekat pasar, tapi masih belum jelas ada tidaknya tempat parkir.

Hujan mulai turun. Banyak yang mengenakan pakaian jawa pada kehujanan. Mereka tetap santai. Tetap saja berfoto ria. Tidak takut basah dan tidak takut masuk angin. Mereka masih belia, masih kuat terkena air hujan. Toh tidak sering. Toh hati mereka riang. Hati yang riang bisa mengusir segala macam penyakit.

Saya diarahkan masuk ke satu pekarangan. Petugasnya bilang : Biaya Parkir Rp 30.000 termasuk gratis diantar becak keliling ke tempat oleh2 bakpia dan batik di daerah Ngasem - pulang pergi.  Saya iyakan saja. Saya bilang ke istri saya, tidak usah naik becaknya. Atau becaknya diminta drop ke pasar beringharjo saja.

Hujan mulai reda. Istri saya turun di pinggir jalan, saya memarkir mobil – masuk pekarangan yang tidak terlalu luas.

Kami naik becak. Becaknya lumayan besar. Becak Jawa Tengah. Beda dengan becak Jawa Timur yang lebih sempit.

Kita ke tempat bakpia dan batik. Kata istri saya. Agar Pak Becak dapat point dari toko bakpia dan toko batik, lanjutnya. Lumayan dapat persenan dari mereka.

Diatas becak saya merasa kagum. Tersenyum sendiri - di dalam hati. Inilah produk bundling yang baru saya temui. Parkir dibundling dengan becak. Bangga rasanya.  Level petugas parkir sudah mengenal dan menerapkan product bundling. Ini kemajuan yang luar biasa. Dia harus mengkoordinasikan dengan tukang becak. Dengan para pemilik toko di daerah Ngasem.

Memang, saat ini sudah banyak kita jumpai bundling product. Mulai dari product electronic, gadget sampai product kebutuhan pokok.  Minyak goreng dibundling dengan kecap. Kecap dengan mie instant, dan sebagainya. Namun untuk parkir dan becak – dibundling, itu baru saya temui di daerah Malioboro ini.

Saya coba cari informasi, sejak kapan strategy marketing yang bernama product bundling ini mulai diperkenalkan. Tidak ada yang bisa menjawab secara pasti. Ada yang bilang Microsoft yang pertama  memperkenalkan dengan menggabungkan product excel, msword, power point dalam satu paket.

Ada juga yang menyatakan CDMA ( Code Division Multiple Acces ) lah yang pertama kali memperkenalkan. Tapi yang pasti bahwa product bundling ini diperkenalkan pada era ilmu marketing modern. Dan itu berada di abad 20.

Saya coba telusuri ke abad yang lebih jauh lagi. Jauh dari lahirnya ilmu marketing modern. Secara tidak sengaja saya menemukan semacam product bundling. Dimana kalau kita membeli product itu kita mendapat manfaatnya yang lebih besar dibanding kalau membeli masing masing product secara terpisah. Sendiri sendiri.

Dan kemudian itu saya temukan dalam hadis Nabi.  Pada abad ke 6. Tidak hanya satu. Tapi beberapa.  Bahkan bisa juga banyak. Hanya saya saja yang belum menemukan.

Yang pertama. Kalau kita Sholat Subuh berjamaah di Masjid. Kita sudah tahu keutamaannya luar biasa besar, yakni seperti sholat sepanjang malam. Namun apabila setelah sholat subuh berjamaah kemudian kita tetap tinggal di masjid untuk berdzikir sampai terbit matahari dan kemudian sholat dua rekaat, dia akan mendapat tambahan pahala seperti haji dan umrah yang sempurna, sempurna, sempurna.  Sholat subuh dibundling dengan dzikir di masjid sampai terbit matahari dan sholat dua rekaat.

Kedua. Apabila kita puasa di bulan Romadlon, kemudian ditambah dengan puasa Syawal selama 6 hari, pahalanya seakan puasa  setahun penuh. Jadi, Puasa Romadlon dibudling dengan 6 hari puasa di bulan Syawal, diganjar pahalanya seperti pahala orang yang berpuasa setahun penuh.  Hal ini diperkenalkan pada abad ke 6. Jauh sebelum lahirnya ilmu marketing modern.

Dan saya yakin masih banyak budling bundling produk ( ibadah ) yang lain. Kalau panjenengan menemukan, silakan di share.

 

# NA

#240225

Tidak ada komentar:

Posting Komentar