16 Oktober 2012

MELIHAT JAUH KEDEPAN


Dikisahkan ada seorang musafir dalam perjalanan haji menuju Mekah. Karena kecapaian dan rasa kantuk yang tak tertahankan, kemudian dia memilih untuk  beristirahat. Diikatkanlah untanya disebuah tiang,  dan    dibaringkanlah  tubuhnya yang letih itu tidak jauh dari untanya.  Rasa capai yang luar biasa telah menghantarkan musafir ini tertidur dengan    nyenyaknya. Tidak terasa dia tidur begitu  lama. Ketika bangun, dia tidak  mendapati lagi untanya ditiang dimana dia  mengikatkan talinya tadi.

Rupanya unta tersebut terlepas dari ikatanya.  Unta itu lari masuk kedalam  kebun kurma dan merusak tanaman yang ada didalamnya.  Mendapati   ada   seekor unta yang merusak kebun yang dijaganya,  kebun yang menjadi   tanggung jawabnya, si kakek penjaga kebun menghalau unta agar keluar  dari kebun itu.  Alih alih unta ini mau keluar kebun,  dia malah lari kesana   kemari dan membuat rusak  tanaman     kurma yang ada didalam kebun  tersebut. Karena jengkel, unta ini kemudian di      panah oleh sang kakek penjaga kebun.  Dan mati.

Setelah mencari untanya kesana kemari, akhirnya si musafir menemukan   untanya mati terpanah di kebun kurma. Tidak terima dengan perlakukan  si kakek terhadap untanya kemudian musafir  itu membalasnya dengan cara    membunuh      si kakek penjaga kebun. Si Kakekpun mati terbunuh.

Ahli waris si kakek penjaga kebun tidak terima kakeknya dibunuh oleh     musafir dan  mengadulah dia kepada khalifah.  Dipanggilnya   sang musafir dan dilakukan sidang pengadilan. Setelah mendengar keterangan saksi dan   argumen pembelaan dari terdakwa, diputuskanlah oleh pengadilan bahwa   terdakwa - sang      musafir harus dihukum mati.

Dengan tertunduk dan rasa menyesal, sang musafir minta sedikit  keringanan.  Dia minta  diberi kesempatan beberapa waktu untuk  pulang ke kampung  halamannya agar bisa menyelesaikan beberapa urusan yang   menjadi tanggung jawabnya.

Khalifah menanyakan apa jaminannya kalau   ternyata kamu melarikan diri   dan tidak kembali lagi untuk menjalankan hukuman.  Disini saya tidak      punya siapa siapa khalifah, dan saya harap khalifah memberi kepercayaan kepada  saya. Jawab sang musafir dengan suara lemah. Tidak bisa.   Kalau tidak ada yang menjamin kamu tidak boleh pergi kemana mana, jawab sang khalifah dengan tegas.

Tiba tiba dari barisan belakang, ada orang yang dengan lantang   menyatakan, saya jaminannya khalifah. Apabila orang ini tidak datang pada waktunya, maka sayalah penggantinya, sayalah yang akan menjalani  hukuman gantung.  Semua yang hadir terkejut,  karena yang berkata adalah sahabat mereka. Dan mereka tahu sahabat ini tidak mengenal dan tidak ada hubungan darah dengan sang musafir.

Karena ada yang menjamin, maka sang terhukum - sang musafir boleh   pergi dan pulang ke kampungnya untuk beberapa saat menyelesaikan  urusannya.

Pada hari yang di tentukan,     ternyata sang terhukum ini datang untuk  menjalani eksekusi hukuman mati.  Namun sebelum hukuman dilaksanakan khalifah bertanya kepada sang terhukum, mengapa kau tidak       melarikan diri     saja;    bukankah ada    kesempatan untuk  itu   ? Dengan sangat tegas dijawab oleh sang terhukum.         Khalifah,  saya  tidak mau, suatu saat nanti ada orang yang mengatakan, dulu ada umat Muhammad yang melarikan diri dan menghindar dari tanggung jawab.  
Dengan menganggung ngangguk, kemudian khalifah menoleh kepada sahabat yang menjadi jaminan sang terhukum. Wahai sahabat, mengapa   kamu percaya dan mau menjadi penjamin dia.  Bukankah dia bukan siapa siapa mu ?  Si penjamin       menjawab dengan tidak kalah tegasnya. Saya tidak  mau, suatu saat nanti ada orang yang mengatakan, dulu ada umat    Muhammad yang tidak mempercayai dan tidak mau membantu saudara seimannya.

Mendengar tanya jawab seperti itu, kemudian dari deretan depan ada suara  lantang yang mengatakan. Khalifah, kami maafkan kesalahan sang musafir ini. Dan         bebaskan dia dari hukuman mati. Suara lantang ini ternyata berasal dari ahli waris si kakek yang telah menuntut hukum kepada sang musafir. Mengapa kau maafkan dia, tanya khalifah.  Dengan suara mantap  ahli warisini mengatakan,      saya tidak mau, suatu saat nanti orang mengatakan,   dulu ada umat Muhammad  yang tidak mau memaafkan kesalahan saudaranya.

Kisah ini sungguh sangat menarik dan inspiratif. Boss saya dulu sering menasehati  hati hatilah dalam memutuskan,  jangan sampai apa yang menjadi     keputusanmu saat ini menimbulkan masalah dan menjadi contoh yang jelek bagi penggantimu.  Kamu harus bisa dikenang dengan baik oleh penggantimu.  Jangan sampai    suatu hari nanti ada orang yang mengatakan siapa yangmembuat keputusan yang   bikin kacau kayak gini. Atau jangan sampai ada yang mengatakan, siapa yang buat ini;  bikin boros saja, dsb.

Memang, apapun kalau kita pertimbangkan jangka panjangnya tentu  hasilnya akan lebih baik.  Namun  untuk  itu diperlukan kesabaran, kegigihan; pengorbanan   dan mampu   mengesampingkan  kepentingan diri sendiri.   Hanya orang yang mempunyai mentalitas   kelimpah ruahan ( abandon mentality ) yang   mampu melakukan hal ini.    Mengapa ?  Karena jangka panjang; yang belum tentu kita sempat menikmatinya.  Seperti halnya kisah kakek yang menanam pohon kelapa. Ketika ditanya apakah kakek sempat memetik buahnya nanti, dengan anggun kakek menjawab, yang menikmati nanti cucuku.  Itulah  ajaran leaving  legacy - meninggalkan warisan. Dan hanya orang yang mempunyai tingkat  kematangan  dan tanggung jawab yang hebatlah yang mampu melakukannya.

Seandainya kita tahu apa yang terjadi 10 tahun lagi dari apa yang kita usahakan     hari ini, niscaya kita akan melipatgandakan keseriusan kita hari ini.  Atau   seandainya kita tahu apa yang terjadi 10 tahun lagi dari apa yang kita tidak lakukan hari ini, niscaya kita akan segera bergegas memulainya.

Mampukah kita melihat jauh ke depan. Seberapa jauh kita mampu melihatnya.
It is leadership  all about.

( KSB 151012 )

Tidak ada komentar:

Posting Komentar