20 Oktober 2013

DIPERLUKAN DUA ORANG UNTUK BERTENGKAR



Pemimpin itu begitu di cintai oleh rakyatnya. Dia begitu dekat dengan rakyatnya. Dia sangat tahu kondisi dan apa yang dirasakan rakyatnya.  Rakyatnya juga begitu dekat dengannya. Rakyatnya tidak sungkan dan tidak takut mengadukan apapun masalah yang dihadapi kepadanya.

Hari itu salah satu rakyatnya mengunjungi tempat kediaman pemimpin itu. Rumahnya sangat sederhana, tidak ada penjagaan sama sekali, padahal dia adalah pemimpin negara, pemimpin pemerintahan. Makanya begitu mudah rakyatnya bisa berkunjung dan mengadukan permasalahan apapun di rumah pemimpinnya. Dia tidak lagi mengenal open house, karena setiap hari, setiap saat rakyatnya bebas berkunjung. Bukankah istilah open house itu diperuntukkan bagi pejabat yang tidak membebaskan rakyatnya berkunjung setiap saat, setiap waktu  ?

Sesampai di depan pintu rumah, sesaat sebelum mengucapkan salam, rakyat itu, tamu itu mendengar suara wanita yang sedang marah marah. Suara marah wanita terdengar sangat jelas karena memang rumah sang pemimpin begitu sederhana dan jauh dari kriteria besar dan megah.

Kemudian diurungkanya niatnya untuk mengucapkan salam. Dia tunggu sejenak. Namun masih terdengar wanita itu marah marah. Dia marah kepada suaminya. Namun tidak ada satu katapun yang terdengar dari sang suami. Dia sangat tidak enak mendengar wanita yang sedang memarahi suaminya. Dia sangat kenal dengar suara wanita tersebut yang tidak lain adalah istri sang pemimpin itu sendiri.  Sejenak kemudian diapun pergi meninggalkan rumah pemimpinnya. Dia pulang ke rumahnya dengan fikiran penuh tanda tanya.

Beberapa saat kemudian, pemimpin itu keluar rumah mau berangkat ke masjid. Di tengah jalan dia ketemu tetangganya. Disampaikanlah oleh tetanganya kalau tadi ada tamu yang berkunjung ke rumah namun tidak jadi masuk.

Setelah menyelesaikan ibadah di masjid, sang pemimpin tidak langsung pulang kerumahnya. Namun dia langsung kerumah tamu yang urung bertemu dengannya.

Setelah ketemu, dengan sebelumnya meminta maaf karena dia tidak mendengar dan mengetahui ada tamu, maka sang pemimpin menanyakan apa tujuan dia mau bertemu di rumahnya.

Dengan sedikit ragu ragu, sang rakyat inipun menceritakan tujuan berkunjung kerumah pemimpinnya. Dia mau mengadukan masalah rumah tangganya. Namun sebaiknya tidak usah saya ceritakan kepada Tuan, begitu kata sang rakyat.  Mengapa  ? Tanya sang pemimpin. Rasanya Tuan menghadapi masalah yang sama dengan saya. Maafkan saya Tuan. Saya sempat mencuri dengar bagaimana Tuan dimarahi oleh istri  Tuan. Dan rupanya Tuan tidak mampu menanganinya. Tuan hanya berdiam diri. Itu juga yang saya alami Tuan. Bagaimana saya akan minta bantuan kepada orang yang sedang menghadapi masalah yang sama, yang juga tidak mampu menyelesaikannya. Lanjut sang rakyat.

Dengan sambil tersenyum, sang pemimpin menjelaskan. Kalau ada orang yang sedang marah dan kita meladeninya, bukan solusi yang di dapat, justru pertengkaran yang semakin hebat yang didapat. Dan itu yang sangat diharapkan oleh setan  !!! Nanti, ketika suasananya sudah membaik, kalau sudah tidak dalam kemarahan, saya akan jelaskan kepada istri saya. Dan tentu saja saya akan awali dengan meminta maaf. Cara ini yang biasa saya lakukan untuk menghadapi istri yang sedang marah. Dan selama ini working well.

Sahabat, manusia diberikan dua fikiran. Fikiran sadar ( consious mind ) dan fikiran bawah sadar ( unconsious mind ). Secara sederhana dapat dijelaskan bahwa consious mind berfungsi menangkap apa yang ada di sekeliling kita melalui kelima panca indera kita. Sedangkan uncounsious mind berfungsi untuk menyimpan memori. Hanya hal hal yang dianggap pentinglah yang akan disimpan didalam unconsious mind. Hal yang tidak dianggap penting akan lewat begitu saja. Itulah sebabnya kita seringkali tidak ingat warna pakaian teman kita yang baru 5 menit yang lalu kita temui.  Karena warna baju tidak kita anggap penting. Antara consious mind dan unconcious mind terdapat satu alat yang disebut activated rectingular system, semacam sliding door. Hal hal yang ditangkap oleh consious mind dan dianggap penting akan dimasukkan kedalam unconsious mind melalui sliding door ini. Begitu juga ketika memory tsb akan kita panggil lagi, unconsious mind akan mencarikan dan mengeluarkan ke consious mind melalui sliding door. Namun sayangnya sliding door ini bisa macet juga, sehingga tidak bisa membuka sesuai yg dikehendaki. Kapan akan macet, ketika kondisi kita panik. Oleh karena itu ketika ujian, ketika waktunya hampir habis kita menjadi lupa semua yang telah kita pelajari semalam.  Meskipun kita  ingat persis semalam sudah membaca di bab apa dan dihalaman kanan/kiri. Dan baru setelah kita keluar ruang ujian, masuk kamar mandi semua ingatan keluar semua. Mengapa  ? Karena saat itu kita dalam kondisi relax. Begitu juga ketika seorang anak baru ngambek, susah sekali di nasehati. Karena kondisi sliding door nya masih macet. Perlu dibuat relax, dibuat santai. Menasehati dengan cara memangku anak akan jauh lebih efektif. Karena saat itu anak dalam kondisi relax.

Nasehat sang pemimpin sangat logis. Jangan  berargumen dengan orang yang dalam kondisi emosional. Tidak akan bisa di terima. Ajaran agama menyebutkan, bila kau marah, maka berwudlulah,  duduklah atau berbaringlah. Disitulah kita akan menjadi lebih relax. Saat itulah logika kita jalan. Saat itulah rasional dan nalar kita jalan.  Dan saat itulah kita siap menerima masukan orang lain.

Jadi hindarilah adanya 2 orang yang marah dalam waktu bersamaan, niscaya tidak akan terjadi pertengkaran. Untuk itu diperlukan kemampuan untuk mengendalikan diri; menahan diri dan tidak terpancing oleh lawan bicara.

Semoga menginspirasi ……

Tidak ada komentar:

Posting Komentar