10 Maret 2015

SETELAH KERJA CERDAS, TERUS APA ….



Ketika kami masih kecil sampai remaja; bapak menasehati kami agar selalu bekerja keras. Kerja keras itu kunci keberhasilan, kata beliau.  Beliau kemudian memberikan contoh orang orang dikampung kami yang bekerja keras dan orang orang dikampung kami yang malas bekerja. Mereka nyata benar bedanya. Yang pekerja keras – hidupnya kaya berkecukupan; sedangkan yang malas – miskin berkekurangan. Jadi kalau pingin kaya harus kerja keras.  Biasakan sejak sekarang; sejak masih kecil. Kalian harus rajin belajar; rajin sekolah dan rajin membantu orang tua.  Itu cara membiasakan kerja keras. Kata bapak berulang kali.

Ketika kami sudah mulai kuliah; rupanya kunci sukses sudah bergeser.  Para dosen menekankan harus kerja cerdas ( smart working ). Dengan kerja cerdas;  untuk memperoleh hasil yang sama diperlukan waktu; usaha dan pengorbanan yang lebih kecil.  Jadi mereka yang bekerja dengan cerdas akan mempunyai waktu luang lebih besar. Waktu luang itu dipergunakan untuk belajar lagi sehingga lebih pintar lagi.  Waktu luang bisa dipergunakan untuk riset; inovasi sehingga lebih memudahkan orang dalam bekerja. Demikian seterusnya.  Dengan bekerja lebih pintar kalian juga bisa menghasilkan lebih banyak dalam durasi waktu yang sama. Demikian dosen kami menekankan pentingnya kerja cerdas.

Kalau ditelusuri lebih dalam lagi, ternyata pengertian dan makna kerja mengalami satu evolusi. Menurut tulisan Pak Nuh, mantan mendikbud ada beberapa hal.

Pertama, kerja itu yang penting sibuk, tidak nganggur. Persis dengan yang diperintahkan ibu saya ketika saya masih kecil. Siapa yang paling sibuk akan mendapatkan sanjungan.  Akan menjadi role model, panutan bagi masyarakat sekitarnya.  Orang yang mempunyai fisik kuat; yang tahan kerja keras siang malam dianggapnya telah mengantongi tiket sukses.  Pertanyaannya kemudian adalah apakah yang kerja keras tiada henti pasti menghasilkan lebih banyak ? Jawabannya tentu belum pasti. Namun karena saat itu perkembangan ilmu pengetahuan dan manajemen belum cukup canggih sehingga  belum ada parameter produktifitas. Jadi yang diukur adalah seberapa sibuk orang itu. Seberapa keras orang itu bekerja.

Kedua; kerja itu diukur dari hasil yang didapat. Produktifitaslah ukurannya.  Dengan semakin majunya kehidupan, kemudian timbul berbagai macam kebutuhan baru. Kebutuhan baru itu memerlukan biaya, memerlukan uang yang lebih banyak. Jer basuki mowo beo, kata orang Jawa.   Pada jaman ini manusia sukses sudah diukur dari apa yang dia punya.  Mulailah mereka berlomba lomba untuk menghasilkan lebih banyak agar dapat memiliki lebih banyak.

Sumber daya saat itu masih berlimpah. Namun pengetahuan dan manajemen belum berkembang, atau bahkan belum dimanfaatkan sama sekali.  Bila ingin meningkatkan produktifitas yang mereka lihat hanyalah dari sisi sumber daya. Dari sisi input.  Kalau dengan 1 ha lahan mereka dapat menghasilkan 5 ton padi, maka kalau mereka menginginkan menghasilkan 10 ton padi, mereka harus menanam padinya pada 2 ha lahan.

Contoh lain. Bila seorang staff dapat mengerjakan 150 transaksi, maka ketika transaksi meningkat menjadi 200 – 300 item, mereka menuntut untuk menambah seorang staff lagi.  Hal ini tidak akan menjadi masalah selama resorucesnya berlimpah.
Hal ini juga belum menjadi masalah selama tidak ada pesaing.  Hal ini tidak ada masalah selama tidak ada tuntutan dari fihak lain. Mereka bekerja apa adanya. Belum dituntut oleh pasar yang menghendaki harga lebih murah.

Ketiga, melalui pendekatan output. Mereka juga mengukur produktifitas. Hanya Focusnya adalah pada sisi output, bukan sisi input.

Dengan semakin terbatasnya resources, dengan semakin banyaknya tuntutan pasar,  kita dipaksa untuk lebih kreatif. Lebih banyak menggunakan pengetahuan dan teknologi. Lebih banyak mempraktekkan ilmu manajemen.  Pada era ini sudah banyak dituntut efisiensi dan effektifitas. Produktifitas sebagai hasil dari output dibagi dengan input harus selalu meningkat. Peningkatkan output tidak harus disertai dengan penambahan input dan penambahan sumber daya.

Peningkatan output dilakukan melalui perubahan proses, melalui perubahan cara kerja. Pengetahuan, teknologi dan manajemen akan mempengaruhi cara kerja; cara memproduksi, dan lain lain.  Dengan demikian efektifitas penggunaan sumber daya dapat di optimalkan.

Sebagai contoh, bila dengan 1 ha lahan dapat dihasilkan 5 ton padi. Maka untuk menghasilkan 10 ton padi tidak harus mempergunakan lahan seluas 2 ha. Caranya adalah dengan intensifikasi. Dengan mempergunakan bibit unggul yang umurnya pendek namun mampu menghasilkan lebih banyak. Dengan mempergunakan pola tanam yang baik; pemupukan dan pemeliharaan yang baik dapat menghasilkan padi yang lebih banyak. Dahulu ketika saya masih kecil, Pak Tani hanya akan bisa menanam 2 kali dalam setahun. Saat ini bisa 3-4 kali tanam dalam setahun. Dahulu, padi hanya dapat dipanen setelah berumur 4 -5 bulan, saat ini hanya 3 bulan sudah bisa di panen. Dulu hanya mengandalkan air tadah hujan, sekarang dengan mempergunakan sistem irigasi yang memungkinkan pengaliran air kesawah dapat dilakukan sepanjang waktu.

Contoh lain. Dengan mempergunakan komputerisasi, transaksi dapat diproses dengan jauh lebih cepat. 

Contoh lain yang saya lihat di Bank2 multinasional. Mereka menerapkan sentralisasi pemrosesan transaksi secara worldwide. Sedunia diproses di satu tempat. Watu kerja antar negara berbeda. Cabang di satu negara tutup, cabang dinegara lainnya baru buka. Konsekwensinya adalah diterapkannya sistem shifting karyawan. Bisa dibayangkan, kalau normal, kita akan mempergunakan gedung dan komputer sewa selama 8 jam per hari. Bagi mereka gedung dan komputer sewa dipergunakan selama 24 jam per hari. Jelas sekali mereka akan mendapatkan 3 kali lipat lebih effisien dalam biaya komputer dan gedung dibandingkan dengan normalnya.

Freeport dan perusahaan tambang lainnya mendapatkan kontrak kerja selama 20  atau 30 tahun. Mereka akan memanfaatkan waktu itu seoptimal mungkin. Tidak boleh ada satu detikpun waktu terbuang sia sia. Harus selalu menghasilkan. Ketika saya berkunjung ke daerah tambahnya; saya melihat pekerja, truk pengangkut hasil tambang bekerja tiada henti. Mereka bekerja 24 jam sehari, 7 hari seminggu.  Pekerja dan truk dimonitor secara elektronic. Bila ada truk yang berhenti terlalu lama akan ketahuan dan akan ditanya apa masalahnya. Begitulah mereka memanfaatkan masa kontrak sebesar besarnya. Tidak boleh sedetikpun yang unproductive.

Keempat, yang disebut dengan impact  base. Pendekatan dampak. Yang terpenting adalah dampaknya.   Sebagai contoh, kalau pemerintah berhasil membangun jalan baru on time dengan biaya dibawah jumlah yang dianggarkan. Sampai disini kita hanya bicara output based. Pertanyaan selanjutnya adalah apakah dengan jalan baru ini bisa meningkatkan kemakmuran rakyat sekitarnya ? Ini adalah impact based.

Pada perusahaan jasa seperti perhotelan, perbankan, airport dan lain lain. Setiap memasuki bulan Romadlon mereka menghias front office nya dengan hiasan ketupat, patung unta dan accesoris yang lainnya. Ini bagus. Hanya pertanyaannya adalah apakah hiasan tersebut bisa membuat nasabah menjadi lebih senang ? Apakah hiasan tersebut bisa menaikkan omset perusahaan ? Kalau tidak ada impactnya terhadap perusahaan, maka semua usaha itu tidak ada gunanya.  inilah pertanyaan impact base.

Kita banyak melakukan perubahan dan pembaharuan.  Kreatifitas dan inovasi banyak sekali dilakukan. Kita bisa banyak cerita mengenai ini.  Bisakah kita menerangkan berapa rupiah impact yang dihasilkan dari itu semua ? Berapa penghematan yang diperoleh ? Berapa biaya tersembunyi ( hidden cost ) yang bisa dihilangkan. Berapa rupiah yang dihasilkan oleh bisnis baru, dsb. Itulah pertanyaan pertanyaan impact base.

Teman saya selalu berpesan bahwa apapun yang kita lakukan haruslah bersandar pada azas manfaat.  Banyak proyek beliau yang awalnya tidak  banyak memberikan profit bagi perusahaan.  Tapi proyek tsb tetap dilanjutkan dan di manage dengan baik.  Beliau selalu mengatakan kepada saya; biarlah saya tidak banyak untung dari proyek ini, namun proyek ini bermanfaat untuk orang lain.  Dari proyek ini dapat memberikan lapangan kerja baru bagi masyarakat. Itu sangat penting. Kata beliau. Saya menyebutnya sebagai spiritual impact base.

Kemarin saya sempat makan siang bersama beliau. Ternyata proyek yang awalnya berlandaskan pada spiritual impact base, saat ini sudah banyak memberikan keuntungan bagi perusahaannya. Keuntungan kotor per bulanya sudah mencapai tidak kurang dari Rp 800 juta.

Starting from spiritual impact base menjadi spiritual and financial impact base.  Saya teringat satu ajaran; siapa yang suka membantu memudahkan makhluk Nya; dia akan dibantu dan dimudahkan oleh Nya.

Semoga menginspirasi..

1 komentar:

  1. Sangat menginspirasi M. Aidlon, menambahkan aspek spiritual di ranah finansial tentu akan membantu mewujudkan work-life balance.

    BalasHapus