22 Desember 2013

MANUSIA HEBAT - SEBUAH RENUNGAN DI HARI IBU



Pagi itu, dihari sabtu, saya sengaja tidak pergi ke lapangan ITS untuk berolah raga. Biasanya, setiap Sabtu dan Minggu pagi saya berolah raga di lapangan itu selama paling tidak 60 menit. Sudah lebih dari setahun ini saya lebih suka berolah raga di ITS. Kiri kanan lapangan masih banyak burung burung yang beterbangan. Sesekali bersaut sautan. Suatu suasana yang sudah jarang saya temui di Surabaya. Apalagi di sekitar situ masih ada petani yang bercocok tanam.  Memang masih ada beberapa hektar sawah disana. Sawah yang dikelilingi oleh daerah perumahan elit dan  bangunan bangunan tinggi

Pagi itu memang ada undangan pengajian dari seorang sahabat. Meskipun didalam undangannya tercantum jam 09.30 dimulainya pengajian, namun istri saya bilang mau datang jam 09.00. Sudah dimintai tolong sebagai penerima tamu, begitu istri saya menjelaskan. Karena kuatir terburu buru, maka saya memutuskan untuk tidak ke lapangan ITS. Saya cukup stretching saja di Rumah.

Melihat anak saya mencuci mobil dan istri saya sibuk memasak didapur,  maka tidak pantas rasanya kalau saya hanya duduk manis sambil baca koran. Meskipun keinginan untuk itu begitu besar.

Kemudian saya pergi ke dapur. Maunya bantuin istri. Namun ternyata saya tidak tahan berada di sana lebih dari 5 menit. Panas sekali. Memang cuaca di Surabaya saat itu sangat panas. Duduk diam saja sudah sangat berkeringat. Apalagi ditambah panasnya api kompor.

Namun saya perhatikan istri saya tidak mempedulikan siksaan panas itu. Tidak juga mengeluhkan keadaan itu. Saya lihat dia sering mengusap keringat. Sangat tahan. Mengapa demikian, karena dia menganggap it is her job, her responsibility.

Saya juga perhatikan bagaimana dia bekerja. Kedua tungku di kompor menyala semua. Satu tungku untuk menggoreng ikan, satu tungku lainnya merebus sayur. Dengan sangat cekatan dia tangani semuanya. Dia juga merajang sayur, meracik bumbu di sisi lain dari meja dapur. Satu kemampuan multi skill yang luar biasa. Bahkan terkadang masih sempat juga membalas BBM. Disitu saya sadar bahwa kemampuan multi skill wanita melebihi pria.

Melihat kesibukan seperti itu saya mencoba mau membantu. Tapi baru berdiri kurang dari lima menit, saya sudah tidak tahan lagi atas panasnya suhu didapur. Dalam hati saya berdoa, Ya Allah terimalah jerih payahnya ini sebagai amalan Ibadahnya.

Kalau ingat bagaimana keadaannya dia memasak, rasanya tidak pantaslah kalau kita tidak mensyukuri hasil masakannya. Apalagi sampai mencelanya.  Saya sering mengingatkan anak anak saya untuk tidak mencela apapun makanan yang tersaji di meja makan. Tidak elok !! Tidak menghargai jerih payah yang memasak. Saya sering sedih kalau ada teman yang bercerita dia makan di luar rumah dengan alasan tidak cocok dengan masakan istrinya.

Saya kemudian membayangkan seadainya semua karyawan di kantor, semua warga Indonesia mempunyai etos dan kemampuan kerja seperti yang ditunjukkan istri saya, rasanya indonesia tidak akan seperti ini, indonesia akan sangat produktif, sangat maju dan secara ekonomi tidak "dijajah" oleh bangsa lain.

Apa rahasia dan resepnya  ?

Pertama adanya kesadaran diri dan rasa tanggung jawab. Orang yang mempunyai tanggung jawab, tentu akan mati matian menuntaskan tanggung jawabnya. Ini tidak sekedar urusan dunia, tapi juga urusan dengan Tuhan. Semua pekerjaan dan tugas yang diemban adalah amanah. Amanah harus ditunaikan. Kalau tidak, akan di tagih di akherat. Amanah ini tidak perlu ditulis, tidak perlu di instruksikan.  Kalau anda sebagai suami tidak perlu ditulis bahwa job anda termasuk membetulkan genteng bocor. Okeylah, kalau anda tidak mau sok spiritual. Anda juga pasti  tidak mau disebut  sebagai orang yang tidak bertanggung jawab. Jadi mempunyai rasa tanggung jawab sangatlah powerfull. Powerfull untuk menyelesaikan tugas. Tidak merasa capai. Adanya semangat ingin menyelesaikan kewajiban yang menjadi tanggung jawabnya.

Rahasia kedua. Mulailah perkerjaan dengan mengucap basmallah. Artinya niatkan ibadah. Syarat utama ibadah adalah keikhlasan. Orang yang ikhlas tentunya akan mengerjakan pekerjaan dengan senang hati. Tidak pernah mengeluh. Mengeluh justru akan menghabiskan energy secara sia sia. Cepet capai meskipun pekerjaan belum selesai.  Bekerjalah dengan penuh suka cita.

Rahasia ketiga. Namanya skill/keterampilan, perlu ilmu dan latihan. Berlatihlah terus menerus sehingga menjadi mahir dan terampil. Orang yang mahir dan terampil melakukan pekerjaan "tanpa mikir", sudah auto piloting, yang bekerja adalah fikiran bawah sadarnya. Saya bisa menggoreng ikan, saya juga bisa merebus sayur, bisa juga merajang bawang. Namun saya tidak mampu melakukan itu semua secara bersamaan. Mengapa?  karena saya masih melakukannya dengan fikiran sadar, masih mikir, masih kuatir gosong.

Rahasia keempat adalah focus/konsentrasi. Jangan ditinggal kemana mana. Coba memasak namun ditinggal nonton TV, sangat mungkin masakannya akan gosong. Focus juga bisa diartikan setting priority. Ada prioritasnya. Sering kali orang melupakan skala prioritas, semua mau dikerjakan bersamaan. Dan akhirnya semuanya nothing.

Rahasia kelima, dan ini sangatlah penting. Jangan pernah melupakan minta bantuan Tuhan, karena Dialah yang Maha Kuasa dan Maha Segalanya. Banyak diantara kita ketika mengalami kesulitan lupa meminta tolong kepada Yang Maha Memudahkan. Tuhan sangat memungkinkan yang orang mengira tidak mungkin.

Semoga menginspirasi. ...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar