27 Desember 2013

TIPS MENGGAPAI IMPIAN



Saya sudah lama tidak bertemu dengan sahabat saya ini.  Lebih dari 6 bulan tidak bertemu. Namun pertemuan pagi itu telah membuat saya pangling kepadanya. Badannya yang dulu gemuk sekali sekarang sudah tidak  bisa dibilang gemuk lagi. Turun 10 kg dalam waktu 5 bulan mas, katanya. Turun 10 kg dari badannya yang tidak terlalu tinggi telah membuatnya tidak kelihatan bulat lagi.

Pagi itu kami ngobrol banyak hal.  Ada satu yang menarik perhatian saya yaitu bagaimana caranya menurunkan berat badan dan apa pemicunya.

Suatu saat saya medical check up mas. Collesterol dan asam urat saya tinggi. Kata dokter kalau tidak diturunkan bisa komplikasi kemana mana. Jadi motivasinya sih takut sakit komplikasi mas, demikian dia menjelaskan. Kemudian saya melakukan upaya upaya untuk menurunkan collessterol dan asam urat saya. Saya harus lari 3 KM setiap hari. Saya harus mengatur makanan saya. Kalau pagi saya makan sayur dan buah buahan; kalau siang makan siang biasa dan malam makan sayur dan buah lagi. Dan Alhamdulillah collesterol dan asam urat saya sekarang sudah normal. Dan dapat bonus berat badan turun. Jadi tujuannya pingin sehat saja. Turun berat badan saya anggap sebagai bonusnya saja mas.

Upaya  sahabat saya ini rasanya gampang dilakukan oleh setiap orang. Yang susah adalah mempertahankannya secara konsisten selama setengah tahun.  Dia tidak bosan dan berhenti ditengah jalan sebelum tujuan tercapai. Rupanya dia punya rahasia untuk itu.

Pertama, dia punya penyemangat, sumber energy, yaitu istri dan anak anaknya. Dia pingin bisa berdiri sehat saat anaknya merayakan pesta pernikahannya. Saat ini anaknya masih kecil, masih Sekolah Dasar.  Jadi kalau dia melihat anaknya; dia bayangkan bagaimana nanti kalau anaknya menikah.  Dia bayangkan dia bisa berdiri menyambut tamunya dengan tawa lepas, tawa bahagia tanpa ada penyakit yang membebaninya. Istrinya juga menyemangatinya. Istrinya ikut menemani treatment yang dijalaninya.

Kedua, dia tidak mau kalah dengan kesibukan dan rasa malasnya. Dia tempatkan olah raga lari 3 KM dan atur makanan pada prioritas utama. Kalau pagi tidak sempat lari, malam dia akan lari sebagai penggantinya. Setting priority akan menentukan mana yang boleh dikalahkan. Dan dia tidak mau kalah dalam upaya menjaga kesehatan.

Ketiga, take a break. Saya itu punya cheating day mas. Seminggu sekali saya boleh makan ngawur. Hari Sabtu adalah pilihan cheating daynya. Hari Sabtu dia biasa makan di restauran bersama anak istrinya.  Bagaimana kalau selain Sabtu ada undangan yang menyajikan makanan ? Kalau dia terpaksa tidak bisa menolak makan; maka hari itulah cheating daynya dan hari sabtu harus diperlakukan sebagi diet day. Bagaimana kalau ada undangan dua kali seminggu. Inilah susahnya. Namun dia tetap konsisten; hanya boleh satu hari dalam seminggu. Bagaimana dengan Olah raganya ? Diapun hanya menolerir libur sehari dalam seminggu. Dan  ternyata menurut dokter temen saya; olah raga seminggu hanya cukup 5 hari saja. Itu artinya punya waktu 2 hari untuk libur tidak olah raga.

Apakah di waktu break ini/cheating day ini kemudian dia bisa menikmati makan sebebas bebasnya atau bisa meninggalkan olah raga sama sekali. Ternyata tidak bisa. Dia rupanya pola 6 hari dari 7 hari seminggu telah menjadi kebiasaan dia. Kalau tidak olah raga badan terasa sakit, katanya.

Dari penuturan sahabat saya; saya teringat dengan buku The 4 Disciplines of Execution.  Buku ini menceritakan dan memberikan tips bagaimana agar impian  bisa terwujud.

Pertama, Tetapkan target/impian yang sangat penting. Dalam buku itu diistilahkan Wild Important Goals ( WIG ). Goals ini  haruslah goals yang membuat orang “bangga”, mencengangkan. Atau kalau tidak bisa mencapai goals ini akan “mati”.  Kalau WIG ini di hayati dan di resapi akan menimbulkan motivasi yang luar biasa. What can not people do with the right motivation, katanya.

Kedua; Susunlah langkah langkah yang memungkinkan WIG ini tercapai dan lakukan dengan disiplin. Didunia ini ada hukum sebab akibat. Kalau WIG ini adalah akibat/hasil/konsekwensi; maka harus dicari apa yang menyebabkannya. Inilah yang disebut Lead Measured. Dalam cerita sahabat saya tadi, lead measured nya adalah menjaga makanan dan lari. Sedangkan menurunkan collasterol dan asam urat adalah hasil/akibatnya, yang didalam buku ini disebut sebagai Lag Measured.

Ketiga, kerjakan dengan disiplin Lead measurednya dan buatlah score boardnya. Saya sendiri punya 2 lead measured yang setiap hari saya bikin scorenya. Saya harus olah raga dan saya harus membaca kitab suci. Kalau hari itu saya kerjakan keduanya; saya mengatakan 2-0. Tapi kalau saya tidak kerjakan keduanya saya mengatakan saya kalah 0-2. Kalau saya hanya mengerjakan 1 saja; saya mengatakan ke diri saya bahwa saya kalah 1. Ternyata dengan membuat score seperti ini saya berusaha untuk tidak kalah. Kalau pagi tidak sempat olah raga; pulang kantor saya sempatkan olah raga.

Keempat, Focus pada Lead Measured. Sahabat saya hanya focus pada lead measured. Dia juga bikin score kalah menang. Setiap hari; setiap minggu dia ukur kalah menangnya. Namun tidak setiap hari/minggu bahkan bulan dia ukur kadar collesterol dan asam uratnya. Dia tahu itu itu hanyalah hasil/akibat dari lead measured.

Inilah kesalahan banyak orang. Dia focus pada Lag Measured. Setiap hari diukur berat badannya dan ternyata tidak berkurang. Hal inilah yang  membuat frustasi dan ngambek tidak meneruskan program. Coba kalau diukur lead measurednya, niscaya kita langsung mengetahui kalah menangnya. Jadi focuslah pada lead measured; niscaya lag measured akan mengikutinya.

Jadi, mulai sekarang susunlah tidak hanya target namun juga pemungkin ("enabler")/penyebab dan lebih  focuslah pada penyebabnya, pada lead measured dibanding dengan lag measured. 

Semoga menginspirasi …..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar